Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Rara, Perempuan yang Ingin Mewarisi Semangat Pemikiran Kritis Kartini

Fikri Thoharudin • Kamis, 11 Juni 2026 | 18:44 WIB
Ratri Wulandari
Ratri Wulandari

MEMBACA bagi Rara, adalah sebuah bentuk perlawanan. Upaya ini juga menjadi kebahagiaan tersendiri baginya.

Di tengah deras arus media sosial dan budaya serba instan, Ratri Wulandari (31) memilih jalan yang berbeda. 

Saat orang menghabiskan banyak waktu berselancar di layar ponsel, perempuan muda asal Kelurahan Demaan, Kecamatan Jepara ini, justru memilih tenggelam dalam lembar demi lembar buku. 

Dalam sepekan, ia mampu membaca dua hingga tiga buku. Kebiasaan ini bukan hal baru, melainkan makanannya sejak duduk di bangku SMP.

Baca Juga: Misteri Ornamen Bermotif Kalabhairawa dan Struktur Bata Kuno di Jepara Mulai Diungkap, BPK Lakukan Asesmen

Bagi Rara, membaca bukan sekadar hobi. Aktivitas itu menjadi cara untuk memahami dunia, mengasah cara berpikir, sekaligus menjaga warisan intelektual yang ditinggalkan Kartini.

"Perempuan di Jepara adalah penerus Eyang Kartini. Sayang sekali kalau pemikiran Eyang Kartini tidak ada yang meneruskan," ungkapnya, Kamis (11/6).

Anak bungsu dari tiga bersaudara itu menilai semangat Kartini tidak cukup hanya diperingati setiap tahun. 

Gagasan-gagasan pahlawan emansipasi tersebut, menurutnya harus terus hidup melalui budaya membaca, berdiskusi, dan menulis.

"Pemikiran itu harus dibaca, didiskusikan, dan ditulis kembali. Caranya dengan membaca sebanyak mungkin buku," katanya.

Kecintaannya pada dunia literasi berawal saat SMP. Salah satu buku yang paling membekas dalam ingatannya ialah Nyanyi Sunyi karya Amir Hamzah. 

Dari sanalah ia mulai tertarik menelusuri berbagai karya sastra dan pemikiran kritis yang lebih luas.

Perjalanan membacanya kemudian membawanya mengenal karya-karya penulis dunia seperti Dostoyevsky dan Mary Shelley.

Menurutnya, karya sastra klasik menyimpan jejak pemikiran kritis, yang tetap relevan meski lahir ratusan tahun lalu.

Lulusan Program Studi Sastra Indonesia Universitas Diponegoro pada 2020 itu, meyakini bahwa membaca memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari. 

Di era yang serba cepat saat ini, kemampuan berpikir mendalam justru semakin dibutuhkan.

"Kita hidup di era postmodernisme, putaran yang sangat cepat, dan berada dalam buaian kapitalisme. Membaca membantu pemikiran kita tetap tajam," ujarnya.

Saat ini Rara bekerja sebagai pekerja lepas di bidang kreatif digital. Ia juga beraktivitas sebagai reviewer dan quality analyst. Di tengah kesibukannya, ia tetap menyempatkan diri membaca buku secara rutin sebagai bagian dari proses belajar yang tidak pernah berhenti.

Namun di balik kegemarannya membaca, Rara melihat tantangan yang masih dihadapi masyarakat Jepara. 

Menurutnya, minat baca di daerahnya masih tergolong rendah. Kondisi itu, kata dia, tidak semata-mata disebabkan kurangnya kemauan masyarakat, tetapi juga keterbatasan akses terhadap ruang-ruang literasi yang nyaman.

"Aku melihat minat baca di Jepara masih kurang. Entah karena kesempatannya yang tidak ada, tidak ada toko buku yang proper untuk mencari wacana, atau koleksi perpustakaan daerah yang kurang menarik," katanya.

Karena itu, ia mengajak perempuan-perempuan muda Jepara untuk lebih dekat dengan buku. 

Baginya, membaca jadi salah satu cara paling sederhana untuk memperluas wawasan dan membangun keberanian berpikir.

"Pesanku untuk perempuan Jepara, bacalah lebih banyak. Ada banyak hal yang belum kita tahu dan bisa kita pelajari lewat buku," ujarnya.

Ke depan, Rara berencana menggarap sejumlah proyek kolektif di bidang literasi dan kebudayaan. 

Dalam jangka panjang, ia juga bercita-cita melanjutkan studi magister di Eropa, untuk memperluas pengalaman akademik sekaligus memperkaya perspektifnya tentang dunia.

Di kota kelahiran Kartini, langkah kecil yang dilakukan Rara melalui kebiasaan membaca menjadi pengingat, perjuangan perempuan tidak selalu berlangsung di ruang-ruang besar. 

Melainkan dimulai dari satu buku yang dibaca, satu gagasan yang direnungkan, dan satu keberanian untuk terus belajar.

“Hidup tanpa keberanian, apa artinya itu? Kita mesti berani bersikap dan peduli satu sama lain. Seperti yang dilakukan oleh Kartini hingga Ratu Kalinyamat,” pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#Rara #Sikap kritis #membaca adalah melawan #kartini #membaca