KOTA – Semangat merantau dan menuntut ilmu menjadi napas perjalanan Ma’rifatul Munawaroh (21), mahasiswi asal Palembang, Sumatera Selatan, yang kini menempuh studi di Kudus.
Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa semester empat jurusan Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK), ia juga menjalani kehidupan sebagai santri yang telah ditempuhnya selama kurang lebih sepuluh tahun.
Sejak datang ke Kudus pada 2022, orang yang kerap dipanggil Rifa ini, memilih menjalani dua peran sekaligus yaitu kuliah dan mondok.
Baginya, keduanya bukan pilihan yang harus dipertentangkan, melainkan jalan yang harus dijalani secara seimbang.
Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar justru terletak pada manajemen waktu.
Rutinitas hariannya terbilang padat. Sejak pagi hingga siang, ia fokus mengikuti perkuliahan di kampus.
Setelah itu, aktivitasnya berlanjut di lingkungan pesantren hingga malam hari.
Bahkan, waktu untuk mengerjakan tugas kuliah sering baru dimulai selepas pukul 22.00 WIB, setelah seluruh kegiatan mengaji selesai.
“Kadang kalau ada tugas kuliah, saya kerjakan malam hari. Siang sudah penuh di kampus, dan malam setelah ngaji baru bisa fokus,” ujarnya.
Tak hanya berkutat pada akademik dan kegiatan pesantren, Rifa juga aktif dalam organisasi, khususnya yang bergerak di bidang literasi dan relawan sosial.
Keterlibatamnya ini menjadi ruang bagi dirinya untuk berkembang sekaligus berkontribusi di masyarakat.
Pengalaman berharga lainnya ia dapatkan saat mengikuti program prtukaran mahasiswa ke Filipina pada 2025 selama satu bulan.
Di sana, ia tidak hanya belajar tentang budaya dan akademik, tetapi juga menghadapi tantangan tersendiri, terutama dalam mencari makanan halal.
“Di sana cukup sulit mencari makanan halal. Bahkan street food seperti cilok kebanyakan berbahan babi,” ungkapnya.
Meski begitu, pengalaman tersebut justru memperluas cara pandangnya terhadap keberagaman budaya dan memperkaya wawasan global yang dimilikinya.
Saat ini, Rifa tengah mengikuti kompetisi tingkat nasional yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Dalam kompetisi berbasis tim tersebut, kelompoknya yang beranggotakan lima orang berhasil lolos di tingkat universitas, masuk dalam 18 tim terbaik dari ratusan peserta.
Selain itu, ia juga terlibat dalam Sustainable Innovation National Essay Competition (SINEC) 2026.
Ia mengangkat isu kawasan Muria Raya dalam sebuah ajang nasional ini.
Dalam lomba ini, ia tergabung dalam tim beranggotakan tiga orang yang berupaya menawarkan gagasan inovatif untuk menjawab berbagai persoalan di wilayah tersebut.
Di tengah berbagai aktivitasnya, Rifa tetap menyempatkan diri menekuni hobi membaca.
Baginya, membaca menjadi cara untuk terus memperluas pengetahuan sekaligus menjaga semangat belajar.
Sebagai anak keempat dari empat bersaudara, ia tumbuh dalam keluarga yang mendorong kemandirian melalui pengalaman merantau.
Orang tuanya menanamkan prinsip bahwa kesuksesan akan lebih bermakna jika diraih di luar zona nyaman.
“Orang tua saya selalu bilang, kalau kita tetap di tempat asal, sehebat apa pun kita, rasanya kurang berarti. Makanya saya diminta merantau,” tuturnya. (dik)
Editor : Andika Trisna Saputra