Memakai seragam batik Korpri dengan kerudung hitam, Nur Aida meminta foto bersama dengan Bupati Blora Arief Rohman dan Wakil Bupati Blora Sri Setyorini usai dilantik menjadi PNS di Pendopo Bupati, kemarin. Senyumnya yang tipis dengan mata berkaca-kaca mengucapkan terima kasih kepada Bupati dan Wakil Bupati Blora.
Setelah berfoto bersama, salah satu dokter spesialis kulit dan kelamin di Blora ini mengaku senang dan bangga bisa diperbolehkan belajar dan mengabdi di daerah kelahiran. Ia kemudian menceritakan bagaimana kisahnya sehingga mau menjadi dokter spesialis di Blora.
Sosok perempuan ini memang berkeinginan untuk menjadi seorang dokter, dengan riwayat akademik SDN 2 Ngawen, SMPN 2 Blora, SMAN 1 Blora dan UMS Solo jurusan kedokteran umum serta lulus pada 2020.
“Kemudian melanjutkan magang dan diarahkan oleh direktur rumah sakit untuk melanjutkan kuliah spesialis di UGM dengan mengambil spesialis kulit dan kelamin,” katanya.
Ia mengatakan, kebutuhan dokter spesialis kulit dan kelamin di tiga RSUD yakni Cepu, Blora dan Randublatung masih kosong. Maka dari itu, Nur Aida berkesempatan untuk mengisi kekosongan tersebut jika melanjutkan kuliah spesialis.
“Jadi saat ini saya sedang menjadi mahasiswa dan mengikuti program pendidikan dokter spesialis (PPDS) di 2026 ini. Saya memilih spesialis kulit dan kelamin itu melihat angka kusta atau lepra di Blora masih belum terkontrol. Dari situ saya tergerak untuk ingin menangani kasus-kasus kusta di Blora,” jelasnya.
Aida menambahkan, kalau dari bidang kelamin itu angka HIV dan penyakit infeksi menular seksual (IMS) masih tinggi. Jadi dari situ, ingin tergerak untuk mengedukasi dan merangkul orang-orang yang terkena penyakit tersebut.
“Setelah lulus 2030 dari UGM nanti ingin menjadikan Blora sebagai rujukan yang terintegrasi. Jadi, pasien yang mengalami penyakit alergi kulit, HIV dan komplikasi tidak lagi dirujuk ke Solo, Yogyakarta atau Semarang. Harapannya kembali ke RSUD yang ada di Blora,” harapnya. (*)
Editor : Mahendra Aditya