DUNIA anak-anak, menjadi ketertarikan tersendiri bagi guru muda asal Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara.
Rosyadiyyah Fitri itulah namanya. Matanya berbinar, senyumnya mengembang. Khususnya saat diminta untuk bercerita suka duka dalam mengajar.
Perempuan kelahiran 21 Desember 2001 ini, kini menikmati perannya sebagai wali kelas I di MIS Hidayatul Husna Desa Krasak, Kecamatan Pecangaan. Hal itu ditekuninya sejak awal 2025.
Menjadi wali kelas bagi 29 siswa dengan karakter berbeda-beda, tentu bukan perkara mudah. Namun disitulah keseruannya. Ia tak hanya menjadi guru, tapi juga sebagai ibu dan manusia.
Baginya, setiap anak adalah pribadi unik yang perlu dipahami, bukan sekadar dinilai. Sebab, anak-anak adalah ilmuwan cilik.
“Anak itu punya karakter sendiri. Punya tipe dan cara menasihati yang berbeda-beda. Kadang ada yang terlihat nakal, tapi sebenarnya sedang cari perhatian,” ungkapnya pada Kamis (26/2).
Ia mengenalkan istilah “baterai anak” untuk menggambarkan kebutuhan emosional siswa.
Menurutnya, ada anak yang “baterainya” cepat habis karena kurang perhatian orang tua. Ada juga kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.
Tugas guru, menurut Oca sapaan akrabnya, ialah mengidentifikasi lebih dulu sebelum memberi penilaian.
“Ada anak yang suka dipuji. Kalau ada yang bandel, saya amati dulu. Semua anak itu ilmuwan cilik, tinggal bagaimana kita mengarahkan sesuai karakter dan potensi masing-masing,” tuturnya.
Mulanya, Oca mengaku, dulu sempat “anti banget” menjadi guru. Namun jalan hidup membawanya berbeda.
Latar belakang pendidikan agama yang ia tempuh di MTs Nurul Islam Kriyan dan MA Nurul Islam Kriyan, perlahan membentuk pandangannya tentang pentingnya pendidikan.
Tahun 2020, ia melanjutkan kuliah di Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara dan lulus pada 2024.
Selama kuliah, ia aktif di berbagai organisasi kampus. Mulai dari Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai sekretaris, hingga Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM).
Skripsi yang ia angkat pun tak jauh dari minatnya, yakni studi literatur tentang parenting. Ketertarikannya pada pola asuh, lahir dari kegelisahannya melihat karakter anak zaman sekarang yang semakin kompleks.
“Ilmu humaniora memang jadi ketertarikan saya. Saya ingin memahami anak dari sisi psikologis dan sosialnya,” jelasnya.
Bahkan jauh sebelum lulus, ia sudah mulai mengajar les. Setelah resmi menyandang gelar sarjana, ia langsung terjun penuh menjadi tenaga pendidik.
Awalnya mengampu mata pelajaran PAI, namun karena rombongan belajar bertambah, ia dipercaya menjadi wali kelas I.
“Wali kelas I itu tantangan. Penuh dengan ‘baterai’ yang harus kita isi setiap hari,” ucapnya sembari tersenyum.
Pengalaman organisasinya tak hanya di kampus. Sejak 2017 hingga 2025, ia aktif di IPPNU. Dari situlah ia banyak belajar menjadi pembawa acara dan organisatoris. Awalnya masih menggunakan teks, namun tiga tahun kemudian sudah berani tampil secara spontan. Belakangan ia juga menjadi pembawa acara dalam Pekan Budaya Kriyan dan Baratan 2026.
Ia juga pernah menjadi Ketua Ranting, Sekretaris III PAC, hingga pengurus sekretaris Yatama Desa Kriyan. Berbagai pengalaman itu membentuk rasa percaya diri dan kemampuannya berbicara di depan umum. Penuh percaya diri.
“Kalau mau tampil di depan harus percaya diri. Organisasi itu penting, apalagi saat kuliah. Harus punya pengalaman lebih,” ungkapnya.
Sebagai anak pertama dan penerima Beasiswa KIP-K hingga lulus, ia memiliki semangat besar untuk terus berkarier dan memiliki harapan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.
Oca menolak anggapan bahwa perempuan hanya menjadi “kanca wingking” atau sekadar pendamping di ranah domestik.
“Perempuan harus bisa berkembang. Sekolah tinggi itu penting, karena semua butuh ilmu, bahkan jika hanya menjadi seorang ibu,” tegasnya.
Kini, di sela kesibukannya mengajar, ia terus menebar energi positif dan berupaya memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Baginya, menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan ruang untuk bertumbuh bersama anak-anak.
“Kalau kita paham dunia mereka, kita akan enjoy. Dunia anak itu penuh keajaiban. Unik. Mengayakan batin,” pungkasnya.(fik)
Editor : Zainal Abidin RK