Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

SOSOK Nandhita Berliana Wardani Asal Grobogan, Dari Modal Rp 1,5 Juta Sukses Bisnis Nanno Bakery

Intan Maylani Sabrina • Jumat, 9 Januari 2026 | 09:44 WIB
Nandhita Berliana Wardani
Nandhita Berliana Wardani

BERAWAL dari melihat tren bento cake yang viral di media daring, siapa sangka langkah kecil itu mengantarkan Nandhita Berliana Wardani menjadi owner Nanno Bakery, usaha kue yang kini kian dikenal di Grobogan.

Perempuan kelahiran Grobogan, 23 April 2004 ini mulai merintis usahanya pada Januari 2022.

Saat Nandhita masih mengandalkan penghasilan dari kerja harian sebagai waiter hotel.

Modal awal yang ia kumpulkan hanya sekitar Rp 1,5 juta, digunakan untuk membeli alat serta bahan kue yang saat itu terasa cukup berat baginya.

Namun keterbatasan modal tak menyurutkan langkah alumnus SMAN 1 Grobogan ini.

Awalnya, Nanno Bakery hanya menjual bento cake dengan kemasan bagasse box yang kala itu belum banyak ditemui di Purwodadi.

Seiring waktu, permintaan pelanggan terus berkembang.

Mulai dari ukuran kue yang lebih besar hingga model dekorasi yang semakin beragam, membuat Nandhita terus belajar dan beradaptasi.

Menariknya, di balik perjalanan usahanya, ada cerita tentang tekad dan pembuktian.

Saat memutuskan membangun bisnis, Nandhita sempat tidak mendapat izin orang tua untuk melanjutkan kuliah S1.

Namun ia memilih bertahan dengan keyakinan bahwa usaha yang dibangunnya mampu membiayai pendidikannya sendiri. Waktu dan kerja keras akhirnya menjawab keraguan itu.

Kini, dukungan orang tua justru menjadi salah satu kekuatan terbesarnya, seiring statusnya sebagai mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Semarang sekaligus owner Nanno Bakery.

Perjalanan bisnis tentu tak selalu manis. Pengalaman kurang menyenangkan pernah ia alami ketika kue yang sudah selesai dibuat tidak diambil oleh pemesan, meski sudah dibayar penuh.

Bagi Nandhita, bukan soal materi, melainkan rasa sedih karena kue tersebut seolah tidak digunakan untuk momen perayaan yang semestinya.

"Ada pula cerita lucu yang tak terlupakan. Pernah suatu ketika ia dan pembeli sepakat bertemu COD di alun-alun Purwodadi. Setelah sama-sama tiba di lokasi, barulah tersadar bahwa sang pembeli mengira Purwodadi yang dimaksud adalah Purwodadi, Jawa Timur, bukan Grobogan. Kesalahpahaman itu pun berakhir dengan tawa," ujarnya.

Kini, Nandhita memilih fokus membangun branding. Ia sempat membuka toko di samping Pom Ngabenrejo, Grobogan, namun karena lokasi dinilai kurang cocok, langkah tersebut tidak dilanjutkan.

Sebagai gantinya, ia aktif menggelar workshop menghias kue, yang sudah terlaksana dua kali dan bahkan membawanya berkolaborasi dengan Wardah.

Dari Desa Lemahputih, Kecamatan Brati, Kabupaten Grobogan, Nandhita terus melangkah pelan namun pasti.

Pelanggan yang awalnya sekadar pembeli, kini banyak yang menjadi relasi dekat dan setia mengikuti setiap workshop yang ia adakan. (int)

Editor : Ali Mustofa
#grobogan #inspiratif #sosok