SYAYIDATUN Nur’Aisyah belum lama ini dinobatkan sebagai Duta Generasi Berencana (GenRe) putri Kabupaten Rembang.
Amanah yang disandang digunakan mengedukasi remaja, sekaligus bekal berharga untuk menembus perguruan tinggi.
Siswi kelas XII SMAN 2 Rembang ini, punya program Aisspire (action, inspiration, skill, and spirit).
Berasal dari gabungan kata AISS (inisial dari namanya) dan inspire (inspirasi).
Artinya gerakan remaja untuk beraksi, menginspirasi, mengasah keterampilan, dan menumbuhkan semangat positif dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Latar belakang di era modern, banyak remaja menghadapi tantangan, seperti kurangnya kepercayaan diri, keterampilan sosial, dan kemampuan mengambil keputusan.
Padahal, keterampilan hidup (life skill) sangat penting untuk membentuk generasi yang mandiri, kreatif, dan berdaya saing.
Menurutnya, sebagai Duta GenRe perlu punya program yang tak hanya memberi edukasi, tetapi juga membangkitkan semangat dan menginspirasi remaja untuk berkembang. Dari sinilah lahir program Aisspire.
Tujuan program memberikan edukasi kepada remaja tentang pentingnya mengenali potensi diri, mencintai diri sendiri, peduli pada masyarakat, dan memberi kontribusi kepada masyarakat.
Berikutnya, meningkatkan kesadaran remaja akan peran keterampilan hidup (hard & soft skill) dalam membentuk karakter dan masa depan.
Menyelenggarakan pelatihan keterampilan praktis yang membekali remaja untuk mempersiapkan kehidupan berkeluarga (pola hidup sehat, PUP, parenting, delapan subtansi keluarga, dan lain-lain).
Lalu membangun semangat dan inspirasi untuk menjadi remaja yang aktif, tangguh, dan berdaya melalui konseling remaja.
Sasaran program ini, remaja berusia 13-24 tahun atau siswa SMP, SMA/SMK, mahasiswa, serta anggota Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R).
Bentuk kegiatannya, berupa AISS Talk (edukasi), AISS Workshop (peningkatan life & soft skill), AISS Ready (persiapan kehidupan berkeluarga), dan AISS Care (konseling dan pendampingan remaja).
Output yang diharapkan, remaja menjadi lebih percaya diri, berani, dan mandiri. Juga meningkatnya kesadaran remaja akan pentingnya keterampilan hidup.
Serta terbentuknya komunitas remaja inspiratif yang saling mendukung untuk berkembang dan munculnya dampak positif dalam lingkungan sosial remaja.
Selain berusaha menjalankan program tersebut, saat ini dia juga persiapan untuk ujian sekolah dan masuk perguruan tinggi.
Selain itu, di rumah, dara kelahiran 27 September 2007 ini, juga mengisi waktu luang dengan membuat buket. Hasil karyanya dijual.
Pelajar yang tinggal di RT 3/RW 2, Desa Ngening, Kecamatan Batangan, Pati, ini, punya mulai merintis sejak kelas IX SMP.
Dengan mulai belajar membuat buket secara otodidak. Dengan bantuan media sosial, seperti TikTok dan Youtube.
Dia di antaranya mengerjakan pesanan buket bunga artifisial, buket uang, dan buket snack.
Cenderamata itu, dapat dipesan langsung melalui nomor WA H-7 sebelum buket diambil.
”Hasil dari buket ini, biasanya saya tabung atau saya gunakan untuk membeli keperluan sekolah dan keperluan sehari-hari,” imbuhnya. (noe)
Editor : Ali Mustofa