KUDUS – Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, Vira Ayu Ningrum sudah menapaki jejak sebagai salah satu pengajar muda yang konsisten mengabdikan diri di dunia pendidikan nonformal di Kabupaten Kudus.
Warga Kelurahan Kajeksan, Kecamatan Kota Kudus, itu kini mengajar di sistem homeschooling sekaligus aktif sebagai penggerak komunitas pembelajaran di Omah Dongeng Marwah (ODM).
Lulusan Universitas Muria Kudus (UMK) jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ini mengawali perjalanan sebagai pengajar saat mendapatkan amanah mengajar anak setingkat SMP.
“Awalnya kaget juga karena tidak sejalan dengan jurusan saya, tapi saya ambil saja. Apa pun tantangannya tetap dipelajari,” ujarnya.
Pengalaman pertama itulah yang kemudian membawanya terus mengasah diri hingga mampu mengajar secara privat maupun kelompok.
Di homeschooling tempatnya mengajar, Vira menangani siswa kelas 1, 2, dan 3 SMP.
Jadwalnya padat, mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB setiap hari. Meski begitu, ia masih meluangkan waktu mengajar privat pada Sabtu dan Minggu.
Baginya, setiap anak memiliki proses belajar yang berbeda, sehingga guru harus mampu menyesuaikan pendekatan.
“Setiap anak itu unik. Tugas kita memahami mereka satu per satu,” katanya.
Pengalaman Vira semakin kaya sejak bergabung dengan Omah Dongeng Marwah (ODM), sebuah pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang berfokus pada pendidikan berbasis komunitas.
Ia sudah terlibat sejak SMA sebagai guru tamu, mengisi sesi dongeng, drama, hingga teater.
Kini, perannya berkembang menjadi penggerak komunitas, membantu ODM berbaur dengan masyarakat dan menghidupkan kegiatan-kegiatan kreatif.
Keseriusannya mengabdi di pendidikan nonformal juga ditunjang kemampuan memahami kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus.
Tantangan itu ia hadapi dengan memadukan bekal kuliah tentang pembelajaran inklusif dan belajar otodidak dari teman-temannya yang lebih berpengalaman.
“Kami harus tahu apa kebutuhan setiap anak. Ada yang sulit menangkap informasi, jadi harus dicari cara agar materi tetap tersampaikan,” jelasnya.
Di balik kesibukan mengajar, Vira sempat merintis usaha salad buah selama satu tahun.
Namun ia memutuskan berhenti karena ingin fokus pada dunia pendidikan yang menjadi passion utamanya sejak kecil.
Ketertarikannya pada profesi ini juga dipengaruhi sosok sang kakek yang merupakan seorang guru sekaligus kepala sekolah.
“Saya memang dari dulu suka pendidikan, jadi akhirnya kembali ke dunia yang saya cintai,” tuturnya.
Selain mengajar, Vira juga memiliki hobi menulis dan mendongeng.
Beberapa kali ia menjadi pengisi acara dongeng di sekolah nonformal maupun komunitas.
Kecintaannya pada dunia cerita lahir dari pelatihan dongeng yang diikutinya saat SMA, yang kemudian menjadi bekal penting saat berhadapan dengan anak-anak.
Perjalanannya sebagai guru muda mungkin baru dimulai, tetapi dedikasi Vira Ayu Ningrum dalam memperkuat pendidikan nonformal, mendampingi anak-anak dengan kebutuhan berbeda, hingga menggerakkan komunitas belajar, menjadikannya sosok inspiratif bagi generasi pengajar berikutnya.
Dalam kesederhanaannya, Vira membuktikan bahwa menjadi guru bukan soal pangkat atau seragam, melainkan tentang hati yang terus ingin belajar dan membuat anak-anak tumbuh dengan caranya masing-masing. (dik)
Editor : Ali Mustofa