Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Lebih Dekat dengan Farahdhilla, Kenalkan Beragam Satwa Laut lewat Ekowisata Karimunjawa

Fikri Thoharudin • Selasa, 28 Oktober 2025 | 22:52 WIB
Farahdhilla
Farahdhilla

RADAR KUDUS - LAHIR dan besar di kepulauan, bagi Farahdhilla, 29, adalah anugerah terindah. Laut biru yang jernih, hamparan pasir putih, dan rimbunnya mangrove sudah menjadi pemandangan sehari-hari yang menumbuhkan rasa cinta mendalam terhadap alam. 

Dari kecintaannya pada laut itulah tumbuh tekad untuk memperkenalkan kekayaan bawah air Karimunjawa kepada masyarakat luas, terutama generasi muda.

Sebagaimana diketahui, Karimunjawa sendiri merupakan gugusan lebih dari 20 pulau kecil di utara Jepara, Jawa Tengah. Dikenal sebagai 'surga tropis di utara Jawa', kawasan ini menjadi rumah bagi ratusan spesies ikan, terumbu karang, serta beragam biota laut yang eksotis. 

Airnya yang sebening kaca memungkinkan siapapun menyaksikan keindahan dasar laut tanpa harus menyelam terlalu dalam.

Di tengah panorama indah itulah, Farah tumbuh dan kini menjadi salah satu pengelola sekaligus pemilik ekowisata penangkaran hiu di Pulau Menjangan Besar, salah satu destinasi favorit di Karimunjawa. 

Melalui tempat wisata yang ia kelola setidaknya sejak 2019 lalu tersebut, Farah ingin menghadirkan pengalaman berbeda. Bukan sekadar berlibur, tetapi juga belajar dan berinteraksi langsung dengan satwa laut.

"Selain bisa berfoto langsung dengan hiu, pengunjung juga bisa sekaligus eduwisata dengan mengenal beragam biota laut," tuturnya, Minggu (26/10). 

Dengan tiket masuk yang cukup terjangkau, hanya Rp 20 ribu, wisatawan dapat menikmati pengalaman unik, menyentuh bintang laut, memegang ikan buntal, hingga memberi makan ikan-ikan khas perairan Karimunjawa seperti black molly, mangrove jack, dan kerapu.

Di tempatnya, Farah juga menyediakan area pemancingan ikan giant trevally. "Kalau dapat bisa dibeli per kilogram Rp 150 ribu. Kemarin bahkan ada yang dapat seberat delapan kilogram," ujarnya.

Menurut Farah, masa libur sekolah menjadi waktu paling ramai bagi penangkaran hiu yang dikelolanya. "Kebanyakan memang rombongan keluarga, karena mengikuti libur anak-anak. Biasanya sehari 100 kunjungan, sekarang bisa 200," tuturnya.

Lonjakan wisatawan juga dipengaruhi oleh penambahan jadwal kapal menuju Karimunjawa. Dalam satu hari, terkadang terdapat dua hingga tiga kali pemberangkatan kapal dari Jepara dan Semarang. "Paling pesat saat akhir pekan," jelasnya.

Wisatawan yang datang tidak hanya dari sekitar Jepara, Kudus, Semarang, dan Yogyakarta, tetapi juga dari Bandung serta mancanegara. Setiap tamu yang datang menjadi kesempatan bagi Farah untuk memperkenalkan betapa berharganya ekosistem laut Karimunjawa yang kini juga berstatus Taman Nasional Laut.

"Kalau untuk hiu, ada dua jenis, blacktip reef shark dan whitetip reef shark. Pengunjung bisa berfoto langsung di kolam asalkan tetap tenang, tangan diangkat ke atas, dan tidak panik," terangnya.

Bagi Farah, mengelola penangkaran hiu bukan sekadar bisnis wisata. Lebih dari itu, ini adalah cara ia mendidik masyarakat agar mencintai laut dan memahami peran penting satwa di dalamnya.

"Kalau sejak kecil kita sudah diajarkan mengenal laut, kita akan tumbuh dengan rasa sayang dan tanggung jawab untuk menjaganya," katanya.

Lewat sentuhan edukasi dan wisata, Farah Lazuardy sapaan akrabnya, ia ingin membuktikan bahwa cinta terhadap laut dapat menjadi inspirasi besar untuk menjaga, merawat, dan memperkenalkan warisan alam Karimunjawa, sepotong surga di tengah samudra kepada dunia.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#jepara #penangkaran hiu #karimunjawa #ekowisata