RADAR KUDUS - SEJAK duduk di bangku kuliah semester I, Salmanera Senja Lopiani sudah mencicipi dunia penelitian.
Tidak hanya sekali dua kali, melainkan 17 kali.
Ia terlibat penuh dalam proyek-proyek riset dosen, terutama kepala Program Studi (Prodi) Tadris Biologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus yang melihat potensi dan ketekunannya sejak awal.
”Saya sering diajak terlibat penelitian, karena memang dari awal menunjukkan minat dan tanggung jawab. Saat kuliah tidak ikut organisasi, karena sejak awal ingin fokus mengembangkan akademik dan memperbanyak track record prestasi dan publikasi,” ujar mahasiswi yang kerap disapa Senja ini.
Selain 17 proyek kolaboratif, Senja juga sudah menyusun dua penelitian mandiri.
Tema yang ia angkat tak jauh dari isu-isu biologi, lingkungan, dan pendidikan.
Salah satunya bahkan sudah terpublikasi di jurnal Science and Technology Index (Sinta) 3, yang membahas pengembangan media pembelajaran berbasis lingkungan.
Hasilnya, dia berhak mendapat kebebasan dari kewajiban skripsi.
Dunia riset baginya bukan sekadar menambah CV.
Ia menjadikan cara untuk memahami masalah nyata dan mengasah kemampuan problem solving.
”Saya pernah mengusulkan program pengabdian kepada masyarakat soal pengolahan limbah. Proposal sudah jadi, tapi karena tidak ada dukungan anggaran dari desa, akhirnya pihak desa memberikan kesempatan dalam bentuk sosialisasi,” ceritanya.
Bagi Senja, penelitian adalah jalan hidup.
Ia tak menghabiskan waktu dalam organisasi kemahasiswaan, tetapi memilih untuk menekuni laboratorium, menulis karya ilmiah, dan menjajal lomba-lomba akademik.
”Saya suka menyibukkan diri. Kalau libur, saya malah cari bahan baru untuk riset berikutnya,” katanya sambil tersenyum.
Senja bukan hanya peneliti, ia juga presenter seminar, moderator, freelancer asisten make up artist (MUA) dan fotografer, bahkan pebisnis.
Sejak 2022, ia menekuni kerajinan tangan rajut yang dipasarkan secara daring dan luring.
Ketertarikannya membuat kerajinan muncul, karena sedikitnya pelaku usaha di bidang itu.
Bahkan, ia selalu menyempatkan membuat produk rajutnya tiap hari usai aktivitas.
”Saya belajar secara otodidak. Sekarang penjualannya sudah masuk Shopee dan di beberapa toko,” katanya.
Selain itu, ia telah mengantongi sembilan penghargaan bergengsi.
Termasuk tiga medali platinum dalam lomba riset internasional di University Malaya, Malaysia.
Ia juga menyabet best and youngest presenter dalam konferensi internasional di UIN Sunan Kalijaga dan menjadi delegasi dalam program student mobility ke Malaysia dan Singapura.
Saat ini pun, saat KKN berlangsung, ia menjadikan program zero waste sebagai proyek utama kelompok KKN-nya.
Program tersebut, mengolah limbah plastik, organik, dan minyak jelantah.
Proyek itu bukan tanpa alasan, ia sebelumnya pernah melakukan riset tentang pemanfaatan limbah jelantah menjadi produk bernilai.
Dalam usianya yang masih muda, Senja telah mengukir jalan sebagai akademisi muda yang konsisten.
Di saat sebagian mahasiswa baru mulai memahami metode penelitian, ia sudah melangkah jauh dengan rekam jejak 17 penelitian, publikasi, dan puluhan panggung ilmiah.
Bukan untuk pamer, tapi untuk membuktikan bahwa mahasiswa pun bisa berkarya nyata sejak dini.
Baca Juga: Dari Bonggol Jati ke Istana Negara: Kisah Bambang Gembol, Seniman Ukir Otodidak dari Blora
”Riset itu bukan milik dosen saja, mahasiswa juga bisa kalau tekun dan mau mulai lebih awal,” tandasnya. (*/lin)
Editor : Mahendra Aditya