RADAR KUDUS - SEMANGAT belajar tak pernah mengenal batas.
Itulah yang tercermin dari sosok Sekar Arum Prameswari, perempuan muda asal Dusun Wonoboyo, Desa Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, yang berhasil menorehkan prestasi sebagai salah satu Duta Bahasa Provinsi Jawa Tengah 2025.
Di tengah kesibukannya bekerja penuh waktu, Sekar membuktikan bahwa ketekunan dan keberanian mengambil langkah bisa membuka jalan tak terduga.
Awalnya, keikutsertaan Sekar dalam ajang bergengsi ini berawal dari keisengan. Ia melihat unggahan pendaftaran Duta Bahasa di Instagram.S
Sebagai MC, host, dan penggemar dunia public speaking, hatinya tergerak.
“Aku pikir, siapa tahu ini rezekiku. Bisa jadi ajang untuk upgrade kemampuan dan memperluas relasi,” ujar alumni STIKes Surya Global Jogjakarta itu, yang juga merupakan wisudawan terbaik tahun 2023.
Tanpa persiapan khusus, Sekar nekat mengirim berkas pendaftaran—beberapa jam sebelum penutupan.
Tak disangka, ia lolos. Dari sekitar 200 pendaftar, namanya masuk dalam jajaran semifinalis.
Saat itulah perjuangan sesungguhnya dimulai. Di tengah tanggung jawab pekerjaan, Sekar harus menyelesaikan rangkaian tugas dari panitia, mengikuti pembekalan daring, hingga membuat konten kebahasaan.
Beberapa kali ia mengikuti kelas virtual dari kantor.
Rasa minder sempat menghampiri. Mayoritas finalis berasal dari jurusan bahasa dan sastra, sementara dirinya berlatar belakang kesehatan.
Tapi Sekar tak menyerah. Ia belajar dari nol, menggali teori kebahasaan dan sastra di sela-sela jadwal kerja yang padat.
“Satu hal yang paling berkesan adalah saat sadar aku satu-satunya dari luar dunia sastra.
Tapi justru itu yang membuat aku ingin membuktikan bahwa siapa pun bisa belajar,” ungkapnya.
Kini, setelah resmi menjadi Duta Bahasa Jawa Tengah, Sekar menyadari bahwa tugasnya tak ringan.
Ia harus menjadi teladan dalam bertutur dan berperilaku, serta siap hadir kapan pun dibutuhkan.
Tapi dari situ pula, ia merasa terus bertumbuh.
“Alhamdulillah, aku belajar banyak.
Tentang EYD, kata baku, peran bahasa, hingga arti menjadi representasi publik. Terpenting, aku bisa bangga jadi bagian dari keluarga besar Balai Bahasa Jawa Tengah,” tuturnya.
Perjalanan Sekar menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan waktu, latar belakang pendidikan, bahkan rasa minder bukan alasan untuk berhenti mencoba.
Justru dengan ketekunan, keyakinan, dan keberanian mengambil peluang, jalan menuju impian bisa terbuka lebar. (int)
Editor : Mahendra Aditya