RADAR KUDUS - Miftachul Jannah berhasil meyakinkan orang tua merantau dan berkuliah luar daerah.
Gelar sarjana disandang. Bahkan dinobatkan wisudawan terbaik. Tepatnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.
Dia meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,95. Iktiyar setelah berjuang 3,7 tahun menimba ilmu di Kota Semarang.
Mahasiswi asal Desa Sriombo, RT 5 RW 3, Kecamatan Lasem tersebut membuat kagum orang tuanya dan membawa nama harum daerah.
Prosesi wisuda beberapa waktu lalu berlangsung di gedung Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo, Sabtu, 24 Mei 2025.
Meski menyandang status mahasiswa berprestasi, mengaku tidak pernah menargetkan diri untuk menjadi lulusan terbaik.
“Yang penting itu aku harus bertanggung jawab. Karena kalau IPK anjlok, beasiswa bisa dicabut. Jadi motivasi terbesarnya ya mempertahankan beasiswa,” ungkap Jannah.
Alumni MAN 2 Rembang menceritakan perjuangan bisa kuliah. Dapat beasiswa Dikti dari Pemkab Rembang. Waktu itu dapat informasi dari guru BK MAN.
Ia coba daftar dan mengikuti serangkaian tes, termasuk tes tertulis dan belajar kurang lebih 1 bulan lewat buku tes potensi akademik (TPA) dipinjam dari temannya.
Tidak cukup disitu saja. Perjuangan yang dilalui perempuan kelahiran Rembang 22 April 2003 tersebut sempat menghadapi tantangan. Ceritanya ketika harus meyakinkan orang tua untuk merantau dan berkuliah di luar daerah.
Awalnya, orang tua berharap ia melanjutkan studi di lokasi yang lebih dekat dengan rumah. Namun, dengan semangat dan keberanian, Jannah mendaftar secara mandiri di UIN Walisongo dan berhasil memperoleh beasiswa.
Ketika dinobatkan sebagai wisudawan terbaik, Jannah mengaku merasa bersyukur, terharu, sekaligus terkejut.
”Tapi gak sampai di sini saja, yang pastinya harus lebih struggle (berjuang) buat ke depannya, karena ini hanya kebahagiaan yang sifatnya sementara dan mungkin bisa dibilang awal dari ujian baru,” imbuh Jannah, yang memiliki hobi menulis dan mendengarkan musik.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung proses pendidikannya.
”Saya juga mengucapkan terima kasih banyak atas dedikasi para pembina dan khususnya Pemkab dan Dindikpora karena telah membiayai kuliah saya sampai lulus. Saya tidak akan bisa seperti ini tanpa dukungan dan bantuan dari semua pihak,” ujarnya.
Terkait program ”Dua Desa Dua Sarjana” yang menjadi visi Bupati Rembang , Jannah menyambut baik inisiatif tersebut.
“Menurut saya itu sangat cocok, karena sifatnya bisa lebih menyeluruh dan merata. Apalagi program Dua Desa Dua Sarjana juga menjadi visi misi dari bupati , sehingga ke depan lebih ada kerja sama yang solid untuk melanjutkan program beasiswa yang sudah ada dengan inovasi baru yang tentunya akan meningkatkan SDM Kabupaten Rembang,” jelasnya.
Kini usai lulus kuliah membagikan ilmunya lewat membuka les di rumah. Ternyata ini sudah dijalani sejak masih duduk di kelas X.
Membagi waktu buat sekolah dan les, kemudian naik kelas XI membantu ibu jualan jajan yang di titipkan di koprasi sekolah ditengah kesibukan.
Dia membuka les di rumah sendiri. Untuk anak SD dan SMP di desanya. ”Dulu biasanya pulang sekolah langsung ngelesin. Habis ngaji magrib juga ngelesin sampe pukul 21.00 malam. Lalu belajar biasanya waktu subuh atau ketika luang (libur),” imbuhnya. (Wisnu Aji)
Editor : Mahendra Aditya