SEMPAT diremehkan kawan semasa mengemban kuliah S1, membuat Nuryuana Dwi Wulandari ingin membuktikan bisa meraih studi Magister dengan predikat Cumlaude yang nyaris sempurna 3,94.
Yuana -sapaan akrabnya- ini sempat merasa insecure karena kurang pandai.
Kondisi tersebut membuatnya sempat diremehkan kawan kuliahnya saat itu yang memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) lebih tinggi.
Perempuan asal Desa Sambong Bangi Kecamatan Kradenan ini langsung bertekad untuk melanjutkan pendidikan S-2 Jurusan Pendidikan Sejarah.
"Sebenarnya ingin melanjutkan tata rias, namun orang tua kurang setuju. Karena biaya dirasa sama, akhirnya milih lanjut Pendidikan Sejarah seperti S-1," ungkap Yuana.
Di awal perempuan kelahiran Grobogan 18 September 1996 ini merasa tak terlalu bersemangat.
"Kayak masih ngambang takut kalau punya kawan seperti saar S-1 yang tidak support kita. Alhamdulillah semakin ke sini menemukan kawan yang semuanya baik. Malah selama kuliah bisa sambil kerja," ujarnya.
Yuana masih bisa menyempatkan waktu senggangnya untuk bekerja menjadi MUA hingga freelance mengajar di sekolah.
"Karena S-2 banyak waktu senggah, kuliah nggak full. Kadang pagi, sore dan hanya empat hari dalam sepekan. Alhamdulillah tiga semester lulus," imbuhnya.
Biasanya Yuana menyempatkan terima job make up di bawah jam 07.00 dan setiap Jumat, Sabtu dan Minggu.
Yuana juga membuktikan kesuksesan dalam berpendidikan tinggi ini mampu diraihnya dari hasil kerja kerasnya selama ini.
"Orang tua sudah selesai membiayai kuliah yang kemarin. Magister ini murni biaya sendiri," ujarnya.
"Prestasi ini turut membuktikan ke diri sendiri, bahwa saya bisa menyelesaikan S-2 dengan biaya sendiri. Bonus dengan predikat cumlaude," bangganya. (Int)
Editor : Ali Mustofa