Listia Ningsih merasa mendapat banyak teman dan keluarga di dunia silat.
Hal itu dirasakannya setelah bertahun-tahun menekuni olahraga bela diri asli Indonesia tersebut.
”Silat bukan hanya untuk mencari prestasi, tetapi mencari teman dan sebagai keluarga,” ungkap gadis asal Desa Sumbermulyo, Kecamatan Tlogowungu, Pati, tersebut.
Listia Ningsih sendiri mengaku tertarik pada silat karena ingin menjadi atlet tanding, tetapi impiannya gagal.
Karena terhalang oleh berat badan yang tidak sesuai dengan umurnya.
Namun hal itu tidak membuatnya mundur dari dunia pencak silat. Gadis berjilbab ini kemudian fokus menjadi pelatih.
”Alhamdulillah, anak didik saya pernah mengikuti event kerjukab IPSI, PN Cup, dan alhamdulillah dari salah satunya mendapat juara meskipun anak didikan saya tidak terlalu banyak,” ungkapnya.
Dia mengaku mendukung dan memotivasi mereka sesuai prinsip. Sebab, saya dia tidak bisa menjadi atlet. Untuk itu, anak-anak didiknya harus menjadi atlet. ”Saya hanya bisa melatih dan mensuport mereka,” jelasnya.
Selama melatih Listia Ningsih mengaku banyak mendapat tantangan. Salah satunya pernah disepelekan oleh anak didiknya sendiri.
”Ya dulu pernah disepelekan anak-anak didik saya, tapi dengan sabar saya hadapi dengan Ikhlas. Saya yakin suatu saat akan mendapat imbalan lebih baik,” jelasnya.
Harapannya di dunia persilatan bagi perempuan kalau sudah menikah tetap harus melatih atau memantau anak-anak didiknya langsung. (aua/lin)
Editor : Noor Syafaatul Udhma