RADAR KUDUS - Di tengah hingar-bingar popularitas K-Pop dan dangdut, ada sosok muda yang memilih jalur berbeda.
Intan Septi Rahayu Nugroho, penyanyi asal Wonogiri, belakangan ini semakin sibuk dengan jadwal manggungnya, namun bukan untuk genre populer tersebut.
Intan justru memperdalam tembang Jawa, sebuah pilihan yang jarang dilirik oleh generasi muda saat ini.
Lahir dari keluarga seniman, Intan tumbuh dengan seni sebagai bagian tak terpisahkan dari hidupnya.
Ia terbentuk menjadi pribadi yang cinta pada budaya lokal, berbeda dari kebanyakan kawula muda yang lebih tertarik pada musik modern.
Saat anak-anak muda lain lebih fokus pada game dan media sosial, Intan konsisten menekuni tembang Jawa.
“Bisa ikut nguri-uri (melestarikan) budaya Jawa,” ungkapnya bangga.
Suaranya yang lembut dan khas menjadikan tembang-tembang Jawa yang dibawakannya terasa indah meskipun tidak semua orang memahami maknanya.
Bagi Intan, melantunkan tembang Jawa bukan sekadar soal nyanyian, tetapi juga upaya untuk menjaga warisan budaya.
“Pop dan dangdut sudah terlalu umum, sedangkan tembang Jawa punya keunikan tersendiri,” katanya.
Ayahnya, seorang seniman juga, menjadi sosok yang berpengaruh besar dalam perjalanan seni Intan.
Sejak kecil, ayahnya mengajarkan teknik nyinden (bernyanyi dalam tradisi Jawa) dan menekankan pentingnya pelafalan yang jelas dalam menyampaikan pesan lagu.
Menurut Intan, pengucapan yang benar adalah kunci utama dalam mengekspresikan makna setiap tembang.
Kecintaan Intan pada lagu-lagu daerah ini berawal sejak ia duduk di bangku sekolah dasar.
Guru dan ayahnya melihat bakat besar dalam dirinya, yang kemudian membawa Intan pada berbagai kejuaraan.
“Dari SD sering ikut lomba, dan sejak itu mulai fokus di bidang ini,” kenangnya.
Intan bukan sekadar mendalami teknik menyanyi, tetapi juga memahami filosofi di balik tembang Jawa yang ia bawakan.
Bagi Intan, tembang Jawa lebih dari sekadar hobi, ini adalah panggilan hati yang ia harapkan bisa menginspirasi lebih banyak anak muda untuk turut mencintai dan melestarikan budaya lokal.
Editor : Abdul Rokhim