NASIONAL – Masih ingat dengan mantan SPG Chicken Nugget Pekan Raya Jakarta (PRJ) Irawati Puteri yang sempat viral karena diterima di kampus top dunia Stanford? Kabarnya, ia kini telah lulus.
Baca Juga: Sosok Hafidlatul Muawanah, Mahasiswi UMY Asal Rembang yang Melakukan Wisuda Virtual dari Tanah Suci
Baca Juga: Sosok Fatikha Izzatil Fitria, Mahasiswi UMK Kudus yang Meraih Prestasi Gemilang Lewat Berbagai Lomba
Tak hanya lulus, Irawati Puteri bahkan mengantongi penghargaan bertajuk “Highest Pro Bono Distinction” dari Stanford setelah mendedikasikan lebih dari 300 jam waktunya untuk memberi pelayanan hukum cuma-cuma kepada warga marjinal.
Kabar tersebut juga dikonfirmasi Ira melalui akun X pribadinya @irawatiputeri baru-baru ini. Ira bercerita, pada 16 Juni 2024 ia lulus dari Stanford dan meraih penghargaan “Highest Pro Bono Distinction” serta dilantik sebagai Class Marshal mewakili Stanford Law School—kampus hukum terbaik di Amerika—dalam acara kelulusan.
Baca Juga: SOSOK Zahra Hilda Dara asal Grobogan dari Modeling Kini Gabung di Dunia Entertainment
Sebelumnya, Ira menempuh studi S1 Hukum di Universitas Indonesia dan berhasil mendapat beasiswa S2 untuk studi lanjut di Amerika dari LPDP.
Ia mengaku, sebelum sampai pada titik itu, ia pernah melalui perjalanan yang sangat tidak mudah karena keterbatasan ekonomi sejak kecil. Ira mengaku tergolong sebagai generasi sandwich—sehingga ia sekaligus menjadi tulang punggung keluarganya sejak SMA.
Baca Juga: SOSOK Fatma Umi Marufah Desainer Muda Asal Kudus yang Telah Memiliki Brand Fashion Sendiri
Baca Juga: Mengenal Brilliana Verda Salsabila, Masuk Jurusan Arsitektur di UGM Terinspirasi dari Menara Kudus
Dalam akun X nya, Ira bercerita saat kecil Ia bersama keluarganya tinggal di salah satu kawasan kumuh di Jakarta. Untuk makan saja, Ira dan keluarganya biasanya membagi satu porsi makanan untuk 5 orang, dan hanya bisa makan daging saat Idul Adha.
Semasa sekolah SMA, Ira mulai banyak mengikuti kompetisi dan lomba demi hadiah uang yang didapatnya hingga menjadi juara. Ia juga menjalani banyak pekerjaan sampingan seperti tutor murid, hingga bekerja sebagai SPG di Pekan Raya Jakarta untuk membayar biaya pendaftaran saat masuk kampus sebagai sarjana (S1).
Ira juga mengaku tidak memiliki uang untuk les Bahasa Inggris, sehingga ia mempelajarinya secara otodidak dan belajar dari murid-muridnya yang ia ajari saat tutor.
Meski dipenuhi banyak keterbatasan, Ira yakin Pendidikan bisa mengubah nasibnya. Ia kini juga membuka akses konsultasi gratis untuk masyarakat Indonesia yang ingin belajar di Luar Negeri.
Ia berharap akan ada lebih banyak masyarakat Indonesia yang mengenyam Pendidikan di kampus top dunia seperti dirinya. Ira juga mengirimkan pesan semangat untuk yang lain melalui media sosialnya.
“Kalau kamu terlahir jadi generasi sandwich, harus jadi tulang punggung keluarga karena miskin, TOS! Ayo kita pelan-pelan jalani dengan ikhlas! Satu persatu ada rezekinya. Lawan pertempuran diam-diam kami! Jalan paling masuk akal untuk mengubah nasib adalah Pendidikan dan itu bisa ditapaki,” kata Ira.
Baca Juga: SOSOK Evi Budi Lestari 'Manusia Karet' Asal Grobogan yang Mampu Menekuk Tubuhnya Hingga 180 Derajat!
Baca Juga: Kisah Tasya Salsabila, Sosok Wanita Karir Mandiri yang Hobi Main Makeup Mampu Kuliah Sendiri
Dalam akun X-nya, Ira mengakui bahwa ia menjadi satu-satunya penerima beasiswa LPDP Stanford untuk tahun ini. Ia berharap akan ada warga Indonesia lain yang bisa menempuh pendidikan tinggi seperti dirinya.
“Saya adalah generasi perempuan pertama, dan kebetulan satu-satunya orang Indonesia di antara 18 orang di angkatan saya di Stanford Law School tahun ini. Tapi justru yang jadi perhatiannya gimana supaya lebih banyak orang Indonesia bisa masuk Stanford kan? Jadi harus saling membantu! "Tidak mau unggul sendiri!," kata Ira dalam keterangan tertulisnya.