GROBOGAN - Mengenal lebih dekat sosok Evi Budi Lestari yang memiliki julukan Si Manusia Karet.
Evi bisa melipat tubuhnya hingga menjadikan kepala bisa berada di bagian kaki dan badan ditekuk.
Kelebihan yang dimiliki Evi beberapa mendapatkan penghargaan rekor MURI beberapa kali.
Saat menunjukkan bakatnya, Evi Budi Lestari menaiki meja bulat, bewarna hitam diselimuti kain merah.
Di Atas meja ada besi panjang 50 centimeter ada balok di atas tiang besi.
Evi Budi Lestari berdiri di atas balok itu. Kemudian bernafas panjang.
Selanjutnya kepalanya membalik dan memutar hingga ke bawah.
Hingga akhirnya kepalanya bisa masuk di antara dua kakinya.
Tanganya memegang balok kayu tumpuan.
Posisi tersebut menjadikan Evi Budi Lestari dijuluki manusia karet karena badanya lentur dan bisa ditekuk sampai 180 derajat.
Pertunjukan kedua, dilanjutkan dengan mengambil bunga di atas meja dengan mulut.
Gerakan ini dilakukan dengan berdiri di atas dua tumpuan balok di atas meja.
Tubuh mungil mahasiswa ISI Solo tersebut langsung membalikan badan dan mengambil bunga dengan mulut di atas meja.
Dengan tenang perempuan kelahiran 13 April 1999 ini berhasil melakukanya.
Bakat yang dimilikinya merupakan bakat alami yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Dia bisa melakukan gerakan melengkung, melipat dan masuk koper pernah dilakukan.
Ternyata Evi mendapatkan bakat tersebut mulai sejak kecil.
”Saya tidak tahu bakatnya dari mana. Tetapi dari kecil tubuh saya sudah lentur. Dan sekaligus senam di Sanggar Senam Pak Suyamin,” kata Evi usai pentas dalam pelantikan cabor persatuan senam Grobogan (PSI) Grobogan.
Dengan memiliki tubuh yang lentur, warga Dusun Kedungdowo, Desa Jatiharjo, Kecamatan Pulokulon mempunyai banyak prestasi.
Diantaranya pada September 2004, saat usia Evi menginjak lima tahun, gadis berjuluk ratu pelipat tubuh itu dinobatkan sebaga pelipat tubuh termuda dengan 19 variasi oleh MURI.
Selang dua tahun kemudian Evi dianugerahkan gelar pelipat tubuh unik dangan cara berpasangan.
Tidak bosan memaksimalkan kelenturan tubuhnya variasi gerakan dari 19 menjadi 50 variasi mendapatkan penghargaan MURI lagi tahun 2010.
Tidak hanya mendapatkan penghargaan MURI, alumni MA NU Panunggalan ini juga sering menjadi tamu undangan TV sawsta nasional.
”Saya juga keliling Indonesia untuk road show untuk pertunjukan. Untuk anugerah ini saya syukuri dan saya nikmati sekaligus mengharumkan nama daerah,” ujarnya.
Meski mendapatkan kelebihan kelenturan badan, menurutnya adalah anugerah.
Sebab, dirinya sudah berbakat,sejak kecil hingga dewasa tidak pernah cidera dan yang lainya.
Sehingga bisa gerakan tubuh sesuai dengan variasi yang dipelajari.
”Kemampuan ini adalah bakat alami. Tidak melakukan pantangan apapun. Semua perlu dilatih. Dan Alhamdululilah sampai sekarang masih bisa memiliki tubuh lentur,” terang dia.
Aktifitas dari gadis perempuan sekarang masih menjadi mahasiswi ISI Solo dan memilih bidang tari.
Dirinya berkeinginan menjadi penari professional hingga bisa berkeliling dunia.
Yaitu dengan menekuni tarian tradisional dan modern.
Bahkan beberapa tarian tradisional di Indonesia sudah dia kuasai.
”Selain manggung dan terima undangan. Iya sekarang sibuk di kuliyah dan latihan tari saja. Pinginya sih jadi guru tari setelah luluh kuliyah,” aku dia. (*)
Editor : Dzikrina Abdillah