SEBAGAI seorang guru kesenian, Erwina Rantaunika punya cara dan gaya sendiri dalam mengajar anak didiknya.
Harapannya, anak-anak didiknya menjadi suka dengan pelajaran seni.
Sebab, rata-rata kesenian menjadi salah satu mata pelajaran yang tidak disukai anak sekolah.
Dengan begitu, butuh guru yang mampu mencari solusinya, agar para siswa suka.
”Seni budaya harus fleksibel. Tidak boleh saklek atas kemauan guru sendiri. Jadi, saya membaca budaya sekitar dulu sebelum mengajar," terang guru seni di SMP Negeri 2 Juwana, Kabupaten Pati, ini.
Lebih lanjut, perempuan yang akrab disapa Wina ini, menyontohkan gaya pelajaran seni musik yang ia terapkan.
Seperti perlunya melihat kegemaran anak didiknya terlebih dahulu sebelum memulai pembelajaran.
”Saya tidak suka musik koplo. Saya anak metal sebenarnya. Tapi setelah saya ngajar di sini, yang mana anak ternyata di sini sukanya dangdut," ujarnya.
"Saya kemudian ngajari kendang. Anak-anak juga mulai bisa kendang jaipong. Lalu mengkolaborasikan antara musik barat dan Jawa," paparnya.
Wina juga selalu memberikan pesan kepada muridnya, agar tidak menyerah terlebih dahulu sebelum latihan.
Karena baginya, kemampuan seseorang memang harus diasah.
”Jangan menutup diri dari peluang apapun. Jangan sampai bilang tidak bisa. Skill apapun harus dibuka. Jangan sampai dikunci dengan kata ”aku tidak bisa”. Padahal belum mencoba," ujarnya.
Selama belasan tahun mengajar, Wina mengaku tak menemui kendala pada muridnya dalam memahami apa yang ia ajarkan.
”Kalau sekolah yang lain mengejarnya ke lomba-lomba. Tapi kalau saya ambilkan kesenian yang pertunjukan. Seperti pernah mengadakan seni ketoprak. Anak satu kelas bikin ketoprak. Kostumnya bikin sendiri," imbuhnya. (aua/lin)
Editor : Ali Mustofa