YAYANG Anggraini memilih menjadi perempuan pebisnis. Dia merintis sejak masih kuliah.
Saat itu, sembari kuliah dia melakoni bisnis retail. Semboyannya ”ya belajar, ya cari uang”.
Waktu luang kuliah Anggraini tak dihabiskan untuk kongkow-kongkow ataupun pacaran, tapi untuk mendalami ilmu bisnis.
Meski kadang kewalahan, perempuan yang saat ini sudah lulus dari kuliah jurusan Pendidikan Gusu Sekolah Dasar (PGSD) di salah satu universitas di Semarang ini, tetap semangat.
”Sulitnya kalau lagi banyak tugas kuliah. Kadang merasa kewalahan dan lelah. Sampai pusing juga, karena ngerjain tugas, terus ngurus usaha,” jelasnya.
Perempuan asal Kecamatan Winong, Pati, itu, menjalankan bisnis retail hingga sekarang mampu menjadi supplier di beberapa toko kelontong dan sembako.
”Itu berkat usaha keras sejak kuliah,” terangnya.
Anggraini menyetok berbagai kebutuhan di beberapa toko. Berupa berbagai jenis sembako.
Bisnis itu berdasarkan peluang yang ia lihat. Salah satunya, lokasi strategis rumahnya yang dekat dengan jalan.
Baginya, masa muda haruslah produktif. Tak hanya cari pengalaman buat main-main, tapi untuk masa depan.
”Mumpung masih muda jangan malas-malasan. Cari peluang yang bisa digapai. Nanti nyesel kalau tak produktif,” tuturnya.
Dia ingin hidup mandiri dari usahanya itu. Tanpa mengganggu atau dengan cawe-cawe orang tuanya.
Dari bisnisnya itu, sedikit-banyak ia mampu membiayai kuliahnya sendiri saat itu.
Bahkan, dia menghitung jika sebenarnya orang tuanya sanggup mencukupi kebutuhannya.
Namun, pola pikirnya tidak begitu. Ia ingin mandiri.
Hasil jerih-payahnya itu terganjar. Hingga saat ini, ia masih aktif berbisnis dan menjadi salah satu guru di Kota Mina Tani.
”Saya kerja keras agar hidup mandiri. Saya juga ingin mengabdi di sekolah, biar ilmu sewaktu kuliah bisa bermanfaat,” imbuhnya. (adr/lin)
Editor : Ali Mustofa