ALIYA Fitrahani baru saja menuntaskan pendidikan S1 di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus pada akhir Oktober lalu.
Ia mendapatkan predikat lulusan terbaik dengan peraihan IPK 3,93.
Dia menceritakan, saat masih duduk di bangku MA Mu’allimat NU Kudus, ia pernah bergabung menjadi tim editor majalah.
Meskipun awalnya ia tidak memiliki minat di bidang kepenulisan, dia akhirnya terjun ke bidang tersebut lantaran menuruti saran dari sang ibu.
Kala itu ia mendapatkan posisi sebagai editor utama.
Selain menjadi editor, dia juga merangkap menjadi reporter dan layouter.
Sebagai reporter, ujar dia, ada banyak hal bermanfaat yang dia dapatkan.
Salah satunya bisa sowan ke rumahnya kiai-kiai yang masyhur di Kudus.
Yakni seperti KH Em Nadjib Hasan, selaku Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), dan putra dari KH Choirozzyad dan Cucu KH Turaichan Tajus Syarof, Nalal.
"Semua itu saya lakukan, karena ikut nasehat ibu,” katanya.
Lalu saat menempuh dunia perkuliahan, Aliya dapat menyelesaikan studinya dengan penuh prestasi baik tingkat nasional maupun internasional.
Mulai dari juara lomba esai hingga media pembelajaran bersama tim.
Pada tahun terakhir studinya, ia sempat menyabet juara 1 International Creating Learning Media Competition, juara 1 Inovasi Video Pembelajaran Tingkat Internasional, juara 2 lomba Esai Mahasiswa Nasional, juara 3 lomba Esai Mahasiswa Tingkat Nasional, dan juara 4 lomba Media Pembelajaran dalam kegiatan Olimpiade Agama, Sains dan Riset (OASE) Kemenag RI Perguruan Tinggi Keagamaan Islam se-(PTKI) Indonesia.
Mahasiswi asal Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo ini selama kuliah juga dikenal sebagai mahasiswi yang aktif.
Sebagai salah satu bentuk pengabdiannya sebagai penerima beasiswa bidikmisi, ia juga ikut berperan aktif dalam memfasilitasi dan mengembangkan bakat dan minat mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi dan Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) di bidang akademik dan non-akademik.
Dia menambahkan, dengan berbekal ilmu pengetahuan yang didapat selama perkuliahan, ia bisa membuka les privat pribadi dan mulai berprofesi menjadi Guru Matematika di MTs NU Sultan Agung sejak Agustus lalu.
“Yakni madrasah yang berada di Desa Golantepus, Kecamatan Mejobo,” ujarnya kemarin. (ark/zen)
Editor : Ali Mustofa