Mahasiswa jurusan akuntansi Universitas 17 Agustus 1945 Semarang itu, mengaku mulai menjalani bisnis online sejak pandemi. Waktu itu dirinya perlu pemasukan tambahan. Di tengah masa-masa kuliah. Ia terpaksa mencari sendiri, karena tak ingin merepotkan orang tua.
”Kedua orang tua pentani. Jadi ya harus tahu diri lah," jelasnya.
Sebelum mencoba bisnis online itu, ia sempat menjadi guru les hingga kerja part time. Tetapi karena terlalu menyita waktu, di tengah kepadatan kuliah, akhirnya bia mencoba peruntungan di bisnis online.
Saat awal berjualan, ia mengaku langsung kena tipu. Sempat berkirim beberapa uang untuk mendapatkan barang. Namun, barang tersebut tak dikirm. ”Waktu itu coba jualan lipstik. Uang sudah saya transfer untuk kulakan, tetapi barangnya malah nggak dikirim," terangnya.
Meski sempat tertipu, ia tak menyerah. Ia terus berjualan. Mulai dari make up, kini merambah ke tas, jam, pakaian, dan lain sebagainya. Bahkan, perlahan ia mulai memiliki reseller. Total kini ada 35 reseller yang turut membantu mengembangkan bisnisnya.
"Saya fokus ke pekerja pabrik. Karena banyak yang suka fashion," imbuhnya.
Di tengah berjalannya bisnis online miliknya, ia juga bekerja part time di bisnis travel. Uang dari keuntungan bisnis dan bekerja itu, ia manfaatkan untuk membuat etalase dan membuka toko di rumah. ”Tokonya selain untuk olshop (online shop) juga sembako. Hitung-hitung buat sampingan ibu di rumah," tambahnya.
Selain tertipu, ia menyebut juga sempat mengalami kendala lain. HP-nya sempat error, sehingga kontak telepon miliknya hilang. Termasuk nomor-nomor konsumen. Beruntung banyak konsumen yang akhirnya perlahan kembali memesan.
”Saya selalu memulai usaha dengan selalu meminta ridho orang tua. Karena saya yakin ridho orang tua memperlancar semuanya. Alhamdulillah dengan segala cobaan saya masih bertahan," imbuhnya. (tos/lin) Editor : Ali Mustofa