Perjalanan Isna menggapai karir tidaklah mulus seperti yang telah diraih sekarang ini. Lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA), ia bekerja di pabrik untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Setelah lulus SMA kerja, tapi masih ingin melanjutkan pendidikan. Banyak perjuangan hingga akhirnya diterima menjadi mahasiswa KPI (Komunikasi Penyiaran Islam) IAIN Kudus,” terang Isna.
Selama berkuliah, Isna tidak hanya menjalani aktivitasnya sebagai seorang mahasiswi pada umumnya. Ia kuliah sambil berjualan. Awal mulanya ia berjualan camilan.
Ia jual di kampus dan area Kudus. Jualannya laris.
Selain berjualan camilan, ia juga berjulan baju dan kosmetik yang dipasarkan secara online. Keluarganya memiliki usaha rumahan kupas rajungan yang disetorkan ke agen.
“Alhamdulillah, laris banget,” ungkapnya.
Sebelum dapat membuka salon, perempuan usia 24 tahun itu memulai jasanya secara homecare di 2019.
Pelanggan Isna berasal dari Batangan, Juwana, Pati, Rembang, hingga Semarang. Isna sudah mengikuti praktik khusus untuk setiap jasa perawatan. Sehingga ia sudah memiliki izin dengan memiliki sertifikat praktik.
Selama satu tahun menjalani bisnis eyelash dan facial secara homecare, akhirnya ia berhasil membuka gerai Salon Isna Beauty Studio di Jl. Kuniran Batangan, Pati. Untuk melayani customer, ia dibantu dengan tiga karyawan.
Salon Isna juga telah dilindungi badan hukum oleh kepolisian. Salon yang sudah berjalan selama empat tahun ini sudah mencapai target yang diinginkan. Dengan omzet sekitar Rp 50 juta setiap bulan, ia telah dapat merenovasi rumah dan membeli mobil.
Isna berpesan kepada generasi milenial khususnya yang ingin terjun dalam dunia bisnis untuk selalu hormat kepada kedua orang tua. Ia percaya, dengan membahagiakan kedua orang tua maka rejeki akan lancar dengan sendirinya. Ia juga berpesan untuk memanfaatkan masa muda dengan berbisnis walaupun dimulai dari kecil-kecilan. Karna tanpa mencoba kita tidak akan pernah tahu bagaimana kita telah berusaha dan berhasil. (mirna/zen) Editor : Ali Mustofa