”Menurut saya musik dangdut asyik. Saat orang-orang mendengar pasti ikut merasakan. Misal sedih pendengar merasakan. Misal happy pendengar pun turut merasakan. Jadi, lebih efisien untuk media hiburan,” jelas gadis berambut panjang ini.
Apalagi, lanjut Mey, musik dangdut merupakan budaya asli Indonesia. Sebagai generasi penerus bangsa, menjadi lebih semangat untuk terus menjaga, terlebih mengembangkan.
Mey sendiri sejak kecil memang hobi nyanyi. Awal dia bisa menjadi penyanyi panggung, karena iseng-iseng nyumbang lagu saat saudaranya punya hajat. Awalnya hanya ingin menghibur keluarga. Ternyata ada kelompok musik yang menawari. Akhirnya kesempatan itu diambil.
”Suka dukanya menjadi penyanyi, terlebih penyanyi dangdut banyak sekali. Sukanya dapat kenalan banyak. Bisa menambah seduluran. Dukanya sisi negatif dari lingkungan sekitar juga ada. Ya masih banyak orang-orang yang mengira penyanyi dangdut itu negatif,” jelasnya.
Namun, Mey tetap menjalani pekerjaannya ini dengan happy. Apalagi saat ramai job manggung. Biasanya moment ramai itu, setelah Lebaran, sedekah bumi, dan tahun baru. Moment itu selalu ditunggu-tunggu gadis asal Desa Ngurenrejo, Wedarijaksa, Pati, ini. (aua/lin) Editor : Ali Mustofa