Gadis kelahiran Jepara ini ingin membantu orang di sekitarnya yang tidak memiliki pekerjaan. Ia juga ingin berdayakan pekerja asli Jepara. Dalam usaha konveksi yang saat ini ia tekuni.
Konveksi kecil yang dikelola Febby memang tidak jamak dijumpai. Sistem pemesanan dan ragam busana yang ditawarkan juga tidak biasa.
Melalui akun Instagram @febb.style, pelanggannya hanya bisa membeli baju melalui sistem pre-order. Nanti, pembeli akan mentransfer biaya busana, lalu pihak konveksi akan membuatnya. Sesuai dengan pesanan baju yang diinginkan. Ia tidak miliki opname stock. ”Satu-satunya online shop yang bisa custom,” ungkapnya kepada wartawan belum lama ini.
Toko pakaiannya cenderung pada model in house production. Langsung dibuat dari rumah. Ia juga menerima pesanan dalam jumlah banyak.
Sementara itu, untuk ragam busana, ia terus menyediakan model yang hanya “in”. Seperti misalnya, belum lama ini sempat tren maxi dress polos, atau busana dengan nuansa lilac. Jenis busana yang ditawarkan penggunaannya bisa untuk acara formal atau nonformal. Harganya, berkisar Rp 100 ribu. Tergantung model.
Dalam akun Instagram promosinya, ia sendiri yang langsung menjadi model.
Untuk keuntungan, Febby tidak mematok target pasti. Ia melakukan aktivitas ini dengan semangat dan kesenangannya di bidang fashion. Saat menempuh tugas menjadi duta, ia juga senang bisa memiliki koneksi yang luas. Penggemar baju dan konsumennya banyak datang dari orang yang ia temui.
Mahasiswa pascasarjana Unisnu ini melihat warga Jepara sebagai sasaran pasar fashion yang potensial. ”Mereka sangat konsumtif untuk masalah baju,” ungkapnya.
Meski usahanya berkembang, saat ini ia kesusahan mencari Sumber Daya Manusia (SDM) yang ingin ia pekerjakan. Sekaligus dibekali pelatihan mengenai dunia fashion. Pekerja yang pernah bersamanya undur diri dan lebih memilih bekerja di pabrik.
Gadis kelahiran 1999 ini berharap, nantinya ada SDM asli Jepara yang mau bekerja dan mengembangkan diri bersama usaha kecilnya ini. (nib/zen) Editor : Ali Mustofa