Jatuh Cinta pada Langit, Marsa Rizka Achlani Tekuni Ilmu Falak di Ma'had Aly Kudus

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 21:14 WIB
ANTUSIAS: Mahasantri Program Studi Takhasus Ilmu Falak di Ma
ANTUSIAS: Mahasantri Program Studi Takhasus Ilmu Falak di Ma'had Aly Taswiquth Thullab Salafiyah Kudus tengah melakukan pemantauan galaksi dan potret hasil alih media. (MARSA UNTUK RADAR KUDUS)

LANGIT selalu memukau. Hal ini seringkali menjadi pelipur dan hiburan bagi jamak orang. 

Melihat maupun mengabadikan objek atau benda-benda di langit, seakan menghadirkan kebahagiaan tersendiri.

Mahasantri Program Studi Takhasus Ilmu Falak di Ma'had Aly Taswiquth Thullab Salafiyah Kudus, Marsa Rizka Achlani (21), menjadi perempuan yang jatuh cinta dengan langit, utamanya astronomi. 

Ia tertarik dengan Falakiyah berawal dari rasa penasaran mendalam terhadap benda-benda langit, waktu, dan berbagai fenomena astronomi. 

Selain menarik untuk dipelajari, hal itu juga memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan sehari-hari.

Terutama dalam hal ibadah sebagai umat Muslim, seperti menentukan waktu salat, arah kiblat, awal bulan Hijriah, dan berbagai hal lain yang berkaitan dengan ibadah.

Lagoon Nebula
Lagoon Nebula

“Saya paling menyukai fenomena seperti gerhana bulan, hujan meteor, dan melihat benda langit menggunakan teleskop. Menurut saya, melihat langit secara langsung memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan hanya mempelajarinya dari buku,” ungkapnya, pad Jumat (9/10). 

Ia juga membagikan pengalamannya sepanjang termenung menatap langit.

“Saya sudah beberapa kali melakukan pengamatan, baik dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan pengamatan bersama. Pengalaman yang paling berkesan, ketika bisa mengamati langsung benda langit menggunakan teleskop karena kita bisa melihat secara langsung objek yang selama ini hanya kita pelajari secara teori,” jelasnya.

Meskipun begitu, pengalaman Marsa dalam observasi masih sangat sedikit.

Di antara, pengalaman yang paling berkesan ialah ketika ia pertama kali menjadi mahasantri Ilmu Falak dan mengikuti acara Falak Day di Kebun Raya Kuningan, Cirebon, Jawa Barat. 

Di sana, udara amat dingin dan lokasinya jauh dari permukiman.

Nilai tambahnya, mendapatkan lokasi yang minim polusi cahaya. 

Sehingga dapat dengan mudah dan amat jelas melihat keindahan langit malam, bahkan dengan mata telanjang. 

“Di sana, saya dan teman-teman mengamati Milky Way. Itu menjadi kali pertama saya bisa mengenali Milky Way dengan mata telanjang. Saat itu, kami mengabadikan keindahan Milky Way menggunakan kamera ponsel Realme C14 Pro+. Karena saat itu saya dan teman-teman sering melakukan observasi mandiri, kegiatan tersebut kami lakukan setelah acara Falak Day pada hari itu selesai,” tuturnya.

Helix Nebula
Helix Nebula

Lebih lanjut dijelaskan, biasanya, yang diamati ialah bulan muda atau hilal, fenomena langit, serta beberapa benda langit seperti planet dan bintang-bintang. 

Hal itu, dapat diamati sesuai dengan kondisi langit dan peralatan yang tersedia.

“Biasanya, pengamatan dilakukan menggunakan teleskop ekuatorial, teropong atau binokular. Cara yang paling sederhana menggunakan menggunakan mata telanjang dan kamera ponsel. Untuk pengamatan tertentu, kita juga dapat menggunakan aplikasi astronomi seperti Stellarium untuk membantu mengetahui posisi benda langit,” jelasnya.

Kendati demikian, pengamatan tidak harus langsung menggunakan teleskop. 

“Untuk pemula, pengamatan bisa dilakukan menggunakan mata telanjang, terutama untuk melihat bulan dan beberapa rasi bintang,” tegasnya.

Di samping itu, juga dapat menggunakan binokular atau aplikasi astronomi di ponsel untuk membantu mengenali posisi benda-benda langit.

“Hal yang paling penting ialah memilih tempat yang minim polusi cahaya dan memastikan kondisi cuaca mendukung,” katanya.

Marsa, juga menyebut di antara fenomena langit malam paling unik di Indonesia selama ratusan tahun terakhir.

Salah satu fenomena langit malam paling ikonik dan legendaris yang pernah disaksikan langsung oleh masyarakat di Nusantara, setidaknya dalam beberapa ratus tahun terakhir ialah kemunculan Komet Ikeya-Seki (C/1965 S1) pada 1965, atau yang oleh masyarakat Jawa dahulu sering disebut sebagai 'Lintang Kemukus'.

Komet ini amat terang hingga ekornya yang panjang dan berkilau tampak jelas dengan mata telanjang di langit fajar wilayah Indonesia. 

Fenomena tersebut menciptakan pemandangan malam yang spektakuler, sekaligus meninggalkan kesan mendalam dalam sejarah sosial masyarakat kala itu.

Galaksi Caldwell
Galaksi Caldwell

Sepanjang Oktober 2026 ini, langit malam di wilayah Indonesia dihiasi oleh rangkaian fenomena astronomi yang signifikan.

Mulai dari oposisi Saturnus yang membuat planet bercincin tersebut tampak lebih terang dan dapat diamati dari bumi.

Hingga rangkaian hujan meteor periodik seperti Draconid dan Orionid yang berasal dari sisa debu komet Halley.

Selain itu, dinamika tata surya turut menampilkan konjungsi visual antara bulan sabit dengan planet Jupiter, serta gugus bintang Pleiades. 

Fenomena tersebut tidak hanya menyajikan pemandangan visual yang memukau bagi masyarakat.

Namun, juga menjadi parameter penting dalam pengamatan posisi benda langit guna memperkaya kajian Ilmu Falak.

“Ilmu Falak bukan hanya tentang melihat bulan atau bintang, tetapi juga merupakan ilmu yang sangat dekat dengan kehidupan kita, terutama dalam persoalan ibadah,” sebutnya.

Ia berharap, semakin banyak anak muda yang tertarik mengenal langit dan mempelajari Ilmu Falak.

“Sebab, dari melihat langit, kita tidak hanya belajar tentang alam semesta, tetapi juga bisa semakin menyadari kebesaran Allah SWT,” pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
Mahasantri tekuni astronomi Bertabur bintang Cara lihat Milky Way Cara lihat galaksi astronomi