Hobi Unik Warga Kudus, Raka Pilih Pelihara Ikan Predator Eksotis Berujung Jadi Bisnis

Ali Mustofa • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 11:33 WIB
PAKAN: Pemelihara memberi makan ikan predatornya dengan lele kecil yang masih hidup di kediamannya, kemarim. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)
PAKAN: Pemelihara memberi makan ikan predatornya dengan lele kecil yang masih hidup di kediamannya, kemarim. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)

KUDUS – Memelihara ikan hias bagi Muhammad Raka Satria bukan sekadar mempercantik rumah.

Warga Desa Besito, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, itu justru memilih ikan predator yang dikenal memiliki karakter agresif dan membutuhkan perawatan khusus.

Sejak sekitar 2020, Raka mulai serius memelihara sekaligus menjual berbagai jenis ikan predator.

Koleksinya cukup beragam, mulai peacock bass, catfish, palmas, arwana, aligator, pacu atau bawal, hiu air tawar, toman, datz, hingga pleuro yang masih satu kelompok dengan ikan channa.

Menurut Raka, ikan-ikan tersebut disebut predator karena secara alami memakan ikan lain.

Bahkan, beberapa jenis memiliki sifat kanibal sehinga ikan yang kondisinya lemah berpotensi diserang ikan lainnya.

“Kalau ada ikan yang lemas biasanya dihajar. Memang karakter ikan predator seperti itu,” ujar Raka.

Untuk pakan, Raka biasa memberikan lele yng sudah dipotong maupun lele kecil yang masih hidup. Ikan predator yang dipeliharanya di rumah diberi makan dua hingga tiga kali sehari.

Dalam sekali pmeberian, sekitar 50 ekor ikan predator bisa menghabiskan hingga 60 ekor lele kecil.

Dari berbagai jenis yang pernah dipeliharanya, peacock bass menjadi salah satu favorit Raka. Ia tertarik dengan ikan tersebut karena memiliki warna tubuh yang menarik serta banyak variasi jenis.

“Peacock bass paling saya suka karena warnanya bagus dan jenisnya banyak. Pertumbuhannya juga cepat,” katanya.

Menurut pengalamannya, peacock bass dapat mengalami pertumbuhan sekitar lima sentimeter dalam sebulan.

Ukuran maksimal yang diketahuinya bisa mencapai sekitar 70 sentimeter. Sementara peacock bass terbesar yang pernah dipeliharanya berukuran sekitar 50 sentimeter.

Meski terlihat menarik, memelihara ikan predator tidak selalu mudah. Raka menyebut penyakit menjadi salah satu tantangan. Kondisi tersebut berkaitan dengan perbedaan habitat ikan di alam dengan lingkungan akuarium yang terbatas.

“Habitat aslinya luas dan besar. Kalau dipaksa di akuarium memang agak repot,” jelasnya.

Untuk menyiasati hal tersebut, Raka menyesuaikan ukuran dan ketinggian air dalam akuarium. Salah satu akuarium yang digunakannya berukuran sekitar 70 x 40 x 40 sentimeter.

Namun, ketinggian air tidak selalu dibuat penuh dan hanya sekitar 10 sentimeter untuk jenis tertentu yang dianggap lebih aman.

Menurutnya, penggunaan heater juga dapat membantu menjaga kondisi ikan, terutama ketika membutuhkan air dengan suhu yang lebih hangat.

Raka cukup memperhatikan perubahan fisik ikan untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Ikan yang sakit biasanya terlihat lemas dan pergerakannya tdak normal.

Salah satu tanda yang diperhatikannya adalah ikan hanya menggerakkan ekor, sedangkan bagian insang tidak banyak bergerak.

Kondisi air juga bisa menjadi petunjuk. Air yang mulai keruh, ikan terlihat lemas, hingga muncul bintik-bintik putih pada tubuh menjadi tanda yang perlu segera diperiksa.

Ketika ikan mengalami gejala bintik putih, Raka biasanya menggunakan heater untuk membantu menghangatkan air. Selain itu, ia memberikan garam khusus ikan sebagai bagian dari perawatan.

“Biasanya kalau dipasang heater, bintik putihnya lama-lama hilang. Saya juga kasih garam ikan,” ujarnya.

Pengalaman Raka memelihara ikan predator tidak berhenti pada hobi. Sekitar masa akhir pandemi Covid-19, ia mulai menjadikan koleksinya sebagai bagian dari usaha jual beli ikan.

Sejumlah ikan yang pernah dipeliharanya bahkan memiliki ukuran cukup besar.

Untuk catfish jenis redtail catfish (RTC), ukuran terbesar yang pernah dipeliharanya mencapai sekitar 45 sentimeter. Selain itu, awal-awal, ia juga pernah memelihara peacock bass, arwana, dan oscar.

Namun, arwana dan oscar akhirnya dijual karena masih memiliki peminat.

Karakter agresif ikan predator juga semakin terlihat ketika memasuki masa berkembang biak. Menurut Raka, ikan yang sedang bertelur cenderung menjadi lebih ganas terhadap ikan lain di sekitarnya.

“Kalau ikan bertelur biasanya lebih ganas. Telurnya sendiri tidak dimakan, tetapi kalau ada ikan lain mendekat biasanya diserang karena melindungi telurnya,” terangnya.

Bagi Raka, justru karakter unik tersebut yang membuat ikan predator menarik untuk dipelihara.

Selain memiliki bentuk dan warna yang beragam, tidak banyak orang di lingkungan sekitarnya yang memiliki koleksi serupa.

“Saya suka karena jarang yang punya atau memelihara,” ungkapnya.
Ketertarikannya terhadap hewan eksotis pun tidak hanya pada ikan. Di rumah, Raka juga memelihara sejumlah hewan lain, seperti ular ball python, iguana, dan kura-kura.

Bagi dia, merawat hewan-hewan tersebut menjadi hobi sekaligus cara untuk mempelajari karakter masing-masing satwa.

Khusus ikan predator, tantangannya justru terletak pada bagaimana menjaga kondisi air, pakan, suhu, serta mengantisipasi sifat agresif antarikan.

Bermodal hobi tersebut, Raka tidak hanya mendapatkan kepuasan melihat ikan-ikan unik tumbuh besar.

Ia juga menemukan peluang usaha dengan menjual ikan yang dipeliharanya kepada penghobi lain. (dik)

Editor : Ali Mustofa
Hobi Ikan Hias Ikan Eksotis Peacock Bass Hobi Warga Kudus ikan predator