Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Game Online Mau Dibatasi? Pelajar Minta Pemerintah Jangan Batasi Game Sembarangan

Mahendra Aditya Restiawan • Minggu, 16 November 2025 | 16:12 WIB

Ilustrasi anak bermain game
Ilustrasi anak bermain game

RADAR KUDUS - Perdebatan mengenai rencana pembatasan game online kembali memanas. Namun dari tengah hiruk-pikuk opini publik, suara pelajar ikut menggema: mereka tak menolak aturan, tetapi meminta kebijakan yang dibuat harus masuk akal dan tidak memukul rata.

Salah satu suara yang mencuat berasal dari seorang pelajar SMK di Banten, Muhammad Raffi Ramadan, yang menyampaikan pandangan lugasnya mengenai polemik ini.

Baginya, pembatasan total justru tidak menyentuh akar persoalan. Ia menekankan bahwa dunia game tidak selalu identik dengan kecanduan dan dampak buruk. Ada sisi positif yang kerap diabaikan pemerintah maupun masyarakat.

Baca Juga: Sony Bikin Gebrakan: Labubu Si Boneka Viral Siap Lompat ke Layar Lebar!

Game Bukan Sekadar Hiburan: Ada Peluang Cuan di Baliknya

Raffi mengungkapkan bahwa banyak pelajar justru mendapatkan manfaat nyata dari game online. Tidak sedikit temannya yang mampu menghasilkan pendapatan dengan bermain secara profesional.

Di era digital, dunia game telah berkembang menjadi industri kompetitif, lengkap dengan turnamen, sponsor, hingga peluang karier yang semakin terbuka lebar.

Game bukan hanya tempat untuk lari dari realitas, tapi ruang bagi kreativitas, olahraga elektronik, hingga masa depan ekonomi digital generasi muda.

Pembatasan tanpa pertimbangan matang dikhawatirkan justru meruntuhkan potensi besar yang sedang berkembang.

Baca Juga: Harapan Baru Directioners: Zayn Malik Kembali Masuk Manajemen, Apa Artinya?

Durasi Bermain Masih Wajar, Selama Bisa Mengatur Waktu

Raffi sendiri mengaku bermain gim Mobile Legends dan beberapa gim Battle Royale. Durasi bermainnya sekitar dua hingga tiga jam per hari—angka yang menurutnya masih sehat dan tidak mengganggu aktivitas sekolah.

Ia menegaskan bahwa semua kembali pada kemampuan mengelola waktu. Selama pelajar dapat memprioritaskan tugas sekolah, menyelesaikan PR tepat waktu, dan tetap memiliki waktu istirahat, bermain game bukanlah masalah. Justru, baginya, game bisa menjadi sarana refreshing setelah penat belajar.

Mengakui Dampak Negatif, Tapi Menolak Stigma

Raffi tidak menutup mata bahwa game bisa membawa dampak buruk apabila dimainkan secara berlebihan.

Ia menyebut kecanduan dan turunnya interaksi sosial sebagai risiko yang nyata. Namun bagi Raffi, masalah itu lebih pada disiplin diri, bukan pada gamenya.

Setiap hal yang dilakukan tanpa kontrol akan berujung buruk—dan game pun tidak berbeda.

Karena itu, menurutnya, solusinya bukan memotong akses, melainkan membangun pendidikan literasi digital dan pengawasan yang bijak oleh orang tua.

Solusi Menurut Pelajar: Saring Gamenya, Bukan Jamnya

Saran Raffi kepada pemerintah sangat jelas: yang perlu dibatasi bukan waktunya, tetapi jenis gamenya. Ia mendorong pemerintah melakukan kurasi terhadap game yang mengandung unsur ekstrem, seperti kekerasan brutal dan konten dewasa.

Menurutnya, penghapusan game dengan konten berbahaya lebih relevan dibanding membatasi seluruh pemain, termasuk yang menjalankan aktivitas bermain secara sehat.

Ia juga menekankan perlunya aturan batas usia yang jelas dan tegas pada setiap game. Dengan begitu, anak-anak bisa terhindar dari konten yang tidak sesuai umur mereka.

Baca Juga: Fakta Sebenarnya di Balik Hoaks Kenaikan Gaji PNS dan Pensiunan 2025

Pentingnya Regulasi yang Tepat, Bukan Represif

Dalam kacamata pelajar, kebijakan yang efektif bukanlah kebijakan yang membatasi semua orang, melainkan yang menjaga mereka tanpa mengekang.

Ekosistem game online kini sudah menjadi bagian dari kehidupan generasi digital. Ada ruang hiburan, ada peluang kompetitif, ada potensi ekonomi.

Pembatasan total akan membuat pelajar kehilangan ruang berekspresi, sekaligus mematikan potensi e-sport Indonesia yang sedang berkembang pesat.

Kebijakan yang keliru bisa menimbulkan dampak berantai, termasuk menurunnya peluang talenta muda Indonesia di panggung global.

Harapan Pelajar untuk Pemerintah

Melalui suara Raffi dan banyak pelajar lain, tersimpul satu harapan: kebijakan harus dibuat berdasarkan pemahaman yang benar.

Edukasi digital, pemetaan risiko, kurasi konten, dan pengawasan orang tua adalah formula yang dinilai lebih efektif ketimbang jam bermain yang dibatasi secara sepihak.

Pelajar ingin didengar. Mereka tidak menolak aturan, tetapi meminta kebijakan yang mengerti cara mereka hidup, belajar, dan berkembang di tengah era digital.

Baca Juga: Jangan Salah Lokasi! Ini Dua Titik SIM Keliling yang Tetap Buka Hari Minggu

Game Online Adalah Ruang, Bukan Musuh

Bagi pelajar seperti Raffi, game online bukan musuh, tetapi ruang hiburan, kreativitas, bahkan peluang masa depan.

Oleh karena itu, kebijakan apa pun harus mempertimbangkan fakta tersebut. Pembatasan yang bijaksana menjadi kunci agar generasi muda tetap terlindungi tanpa kehilangan kesempatan berkembang.

Di tengah perubahan dunia digital, suara pelajar layak menjadi bagian penting dalam penyusunan regulasi yang adil dan relevan.

Editor : Mahendra Aditya
#game online #game #pembatasan game online