Beberapa waktu lalu, Toro, Ketua Fokmas memperlihatkan prosesi jamasan keris itu. Yang dibutuhkan, ada kain mori, guci, dan tempat dupa. Si penjamas mengenakan pakaian serba hitam. Termasuk blangkon.
Toro menata bunga tujuh rupa ditaburkan di kain mori sebelah guci berwarna emas yang sudah diisi air. Lengkap dengan gayungnya. Sebagian bunga dimasukkan ke guci. Kemudian di samping guci ditata berjajar keris-keris.
Toro mengaku, memiliki ratusan keris di rumahnya. Rata-rata ia mendapatkan di sekitar pegunungan Lasem. Tapi memakai cara tertentu. Menggunakan metode yang konon bersifat metafisika.
"Waktu saya di rumah, malam hari sekitar pukul 23.00 sampai 01.00 seperti ada panggilan. Terus panggilan itu saya cari," jelasnya.
Ia mengaku bisa merasakan getaran tentang keberadaan pusaka tersebut. Ketika hendak mengambil, ia biasa membawa minyak wangi. Harganya sekitar Rp 1,8 Juta. Kemudian Toro melakukan meditasi. Dalam meditasi itu, Toro mendapatkan pengalaman supranatural. Bertemu dengan pembawa keris yang kasat mata.
"Seperti manusia. Bayangannya kabur. Gak tahu wajahnya. Bentuknya manusia, tapi manusia yang tidak karuan. Pakai pakaian kuno," jelasnya.
Pegiat sejarah itu mengaku, sudah memiliki kemampuan khusus ini sejak kecil. Dulu kenang dia, beberapa kali sempat tidur di rumah, bangun-bangun sudah di tempat lain.
Dari kemampuannya itu, saat ini Toro kerap diajak untuk membuat konten yang bersinggungan dengan misteri. Beberapa wak tu lalu, ia pernah membuat konten di rumah Tiongkok kosong. "Itu memang ang ker. Loteng kosong," katanya.
Di sana ia membersihkan sarang laba-laba. Dan meminta izin dengan penghuni sana. Dalam penglihatannya, ada nenek tua di kursi goyang. "Saya diginikan: iya, tapi jangan melewati batas tertentu," katanya.
Proses pengambilan video pun dilakukan. Dan, ada kameramen yang melewati batas yang telah ditentukan tadi. "Langsung di guyur air. Kameranya basah. Tiba-tiba ada air," je lasnya. Menurutnya, jika di tempat-tempat seperti itu perlu menjaga sopan santun. (vah/war) Editor : Ali Mustofa