Kekeringan Grobogan Meluas 83 Ribu Jiwa Terdampak

Sirojul Munir • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 05:15 WIB
DROPPING AIR - Relawan SMK N 2  Purwodadi bersama BPBD Grobogan lakukan droping air di wilayah Kecamatan  Gabus yang sudah dilanda kekeringan beberapa bulan terakhir. (SIROJUL MUNIR/RADAR KUDUS
DROPPING AIR - Relawan SMK N 2 Purwodadi bersama BPBD Grobogan lakukan droping air di wilayah Kecamatan Gabus yang sudah dilanda kekeringan beberapa bulan terakhir. (SIROJUL MUNIR/RADAR KUDUS

 

GROBOGAN – Bencana kekeringan di Kabupaten Grobogan masih menjadi persoalan serius hingga Oktober 2026. Sebanyak 118 desa yang tersebar di 19 kecamatan terdampak kekurangan air bersih. Kondisi tersebut dirasakan 33.474 keluarga atau 83.423 jiwa.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga, pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan terus melakukan distribusi air. Hingga Oktober, total bantuan yang disalurkan mencapai sekitar 4 juta liter atau setara 782 tangki air.

Kepala Pelaksana BPBD Grobogan Wahyu Tri Darmawanto mengatakan, kekeringan merupakan bencana yang berulang setiap musim kemarau. Kondisi geografis Grobogan, terutama cekungan air tanah (CAT) yang cukup dalam, menjadi salah satu faktor sulitnya masyarakat mendapatkan sumber air.

”Kondisinya karena secara geografis, CAT kita cukup dalam. Kalau mencari sumber air cukup susah juga. Kalau masuk musim kemarau, sumur-sumur gali sudah tidak ada air,” kata Wahyu.

Menurut dia, upaya mendapatkan air melalui pengeboran juga tidak selalu berhasil. Bahkan, pengeboran dengan kedalaman tertentu terkadang belum menemukan sumber air yang memadai.

Kondisi tersebut membuat distribusi air bersih menjadi salah satu langkah penanganan yang harus dilakukan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan warga selama kemarau.

Wahyu menyebut, kekeringan di Grobogan telah berlangsung sejak sekitar Mei. Dampaknya semakin terasa ketika musim kemarau berkepanjangan, yang tahun ini turut dipengaruhi fenomena Super El Nino.

”Sampai saat ini, kita sudah mengalami puncak kedua, mulai September. Kita sudah dropping air bersih ke semua kecamatan, 19 kecamatan,” ujarnya.

BPBD, lanjut dia, terus menyalurkan bantuan air ke wilayah terdampak. Jumlah desa yang mengalami kekeringan berpotensi bertambah apabila hujan belum turun dalam beberapa hari ke depan.

Selain penanganan darurat melalui distribusi air, BPBD juga mendorong upaya jangka panjang untuk mengatasi persoalan kekeringan. Salah satunya dengan pembangunan embung maupun waduk di sejumlah wilayah yang memiliki potensi.

Infrastruktur penampungan air tersebut diharapkan dapat menjadi cadangan air saat kemarau. Selain memenuhi kebutuhan rumah tangga, keberadaannya juga bisa dimanfaatkan untuk mendukung sektor pertanian, terutama irigasi.

”Nantinya juga bisa dipakai untuk kebutuhan irigasi, dan saat kemarau digunakan untuk masyarakat. Artinya tidak hanya kebutuhan air bersih saat kemarau, tapi juga untuk pertanian,” jelasnya.

Wahyu memperkirakan kekeringan mulai berakhir sekitar awal November 2026. Perkiraan tersebut mengacu pada prakiraan awal musim hujan berdasarkan zona musim yang ditetapkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

”Berdasarkan BMKG, Grobogan itu masuk zona pertama di bulan November. Ada juga daerah yang masuk zona kedua di Desember dan zona ketiga di Januari. Namun, Grobogan masuk di pertama,” bebernya. (mun)

 

Editor : Sirojul Munir
dampak el nino Kekeringan di Grobogan Terdampak 118 Desa dari 19 Kecamatan grobogan hari ini bpbd grobogan