GROBOGAN – Seorang pelajar berinisial RAH (17) diduga menjadi korban penganiayaan oleh paman dari teman satu kelasnya di sebuah kafe di Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan.
Peristiwa tersebut disebut bermula dari kebiasaan saling mengejek menggunakan nama orang tua di lingkungan pertemanan sekolah.
Ibu korban, Genduk Sri Lestari, mengatakan kebiasaan saling meledek dengan menyebut nama orang tua sudah biasa terjadi di antara para pelajar di sekolah anaknya.
Namun, persoalan tersebut diduga berujung pada tindakan kekerasan terhadap RAH.
“Di sekolah itu biasa pada panggil-panggilan ejek-ejekan pakai nama orang tua,” kata Genduk, Kamis (15/10/2026).
Peristiwa dugaan penganiayaan itu terekam kamera pengawas atau CCTV di sekitar lokasi kejadian.
Dalam rekaman tersebut, korban terlihat duduk di bangku kayu panjang dengan mengenakan pakaian dan celana berwarna hitam.
Sejumlah orang tampak berada di sekitar korban. Karena kamera CCTV mengambil gambar dari seberang jalan, percakapan di antara mereka tidak terdengar dengan jelas.
Tak berselang lama, seseorang yang mengenakan pakaian berwarna merah muda terlihat melakukan pemukulan terhadap korban.
Beberapa pukulan tampak diarahkan ke bagian kepala dan tubuh RAH.
Dalam rekaman tersebut, korban terlihat tidak memberikan perlawanan saat dipukul.
Meski demikian, identitas serta peran setiap orang yang berada di lokasi masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.
Menurut keterangan Genduk, kejadian bermula ketika anaknya sedang bekerja di kafe tersebut. Korban kemudian didatangi teman sekelasnya bersama sejumlah orang lainnya.
Genduk menyebut rombongan yang datang ke lokasi berjumlah sekitar enam orang. Kedatangan mereka diduga berkaitan dengan persoalan saling ejek yang sebelumnya terjadi di antara para pelajar.
“Anak saya kan kerja di kafe itu, terus didatengin sama temen yang satu kelas itu dia ke sana bawa orang, yang datang sekitar enam orang,” ujar Genduk.
Ia menuturkan, anaknya sempat mengalami pemukulan di dalam kafe. Setelah itu, korban keluar dari tempat tersebut dan kembali mengalami kekerasan di luar bangunan.
Genduk menjelaskan, RAH awalnya ditonjok satu kali ketika masih berada di dalam kafe.
Setelah korban keluar, ia disebut didorong hingga ke arah jalan raya sebelum kembali dipukuli oleh seseorang yang menurut keterangan ibu korban merupakan saudara dari teman sekelasnya.
“Terus anak saya ditonjok satu kali. Terus anak saya keluar dari dalam kafe itu, di jalan dia didorong ke depan di jalan raya, nah yang saudaranya masnya tadi nonjokin anak saya, itu ada videonya,” ungkap Genduk.
Rekaman CCTV tersebut menjadi salah satu informasi yang dapat membantu mengungkap rangkaian kejadian.
Namun, kronologi lengkap, motif, serta pihak-pihak yang terlibat tetap perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan dan keterangan dari pihak terkait.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kebiasaan saling mengejek, terutama dengan membawa nama orang tua, dapat berkembang menjadi konflik apabila tidak disikapi secara bijak.
Perselisihan di antara pelajar semestinya diselesaikan melalui komunikasi dan pendampingan orang dewasa, bukan dengan tindakan kekerasan.
Dugaan penganiayaan terhadap RAH perlu ditangani secara objektif agar fakta kejadian dapat terungkap dan proses penyelesaian berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Editor : Ali Mustofa