GROBOGAN — Kemarau panjang yang tak kunjung berakhir membuat warga Desa Tanggungharjo, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, menempuh ikhtiar dengan cara religius. Ratusan warga menggelar shalat istisqa atau shalat meminta hujan, Kamis (8/10).
Ada pemandangan tak biasa dalam pelaksanaan shalat tersebut. Sejumlah warga membawa hewan peliharaan dan ternak ke lokasi. Burung peliharaan, unggas hingga kambing terlihat berada di sekitar tempat pelaksanaan shalat istisqa.
Warga menyebut, kehadiran hewan dalam shalat istisqa tersebut bukan tanpa alasan. Selain mengikuti anjuran dalam pelaksanaan shalat meminta hujan, hewan-hewan itu menjadi simbol bahwa kekeringan tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga seluruh makhluk hidup.
Kemarau di wilayah tersebut disebut telah berlangsung sejak Mei 2026. Hingga memasuki awal Oktober, hujan belum turun dengan intensitas yang mampu mengatasi dampak kekeringan.
Kondisi itu membuat warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dampak kekeringan juga dirasakan sektor pertanian. Sejumlah lahan milik warga terpaksa tidak digarap karena minimnya ketersediaan air dan kondisi cuaca yang panas.
Salah seorang warga, Saefudin Zuhri, mengatakan masyarakat semakin berharap hujan segera turun. Kemarau yang berlangsung berbulan-bulan membuat kebutuhan terhadap air semakin mendesak.
“Sudah lama tidak turun hujan. Masyarakat berharap hujan segera turun karena air sangat dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Bustanul Arifin, Gus Millah Azka, yang menjadi imam dalam shalat istisqa, menjelaskan kehadiran hewan dalam pelaksanaan shalat tersebut memiliki makna tersendiri.
Menurut dia, kebutuhan air tidak hanya dirasakan manusia. Hewan dan seluruh makhluk hidup juga membutuhkan air untuk bertahan hidup.
“Bukan hanya manusia yang membutuhkan air. Hewan juga membutuhkan air. Semua makhluk hidup membutuhkan air,” jelasnya.
Karena itu, membawa hewan ternak maupun hewan peliharaan dalam pelaksanaan shalat istisqa menjadi simbol bahwa seluruh makhluk hidup sama-sama merasakan dampak kekeringan dan memohon agar hujan segera diturunkan.
Ratusan warga pun khusyuk mengikuti rangkaian shalat dan doa. Mereka berharap ikhtiar tersebut menjadi jalan turunnya hujan setelah kemarau panjang yang telah berdampak terhadap kebutuhan air dan aktivitas pertanian warga.
Tak berhenti sekali. Jika hingga Sabtu mendatang hujan belum juga turun, warga berencana kembali menggelar shalat istisqa.
“Kalau sampai Sabtu belum turun hujan, shalat istisqa akan kembali dilaksanakan setiap tiga hari sekali,” kata Gus Millah.(mun)
Editor : Sirojul Munir