Target 1 Juta Ton Beras, Grobogan Mulai Genjot Pertanian Modern dengan PM-AAS

Intan Maylani • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 08:26 WIB
PERTANIAN MODERN: Pemberlakukan PM-AAS di Desa Candisari Kecamatan Purwodadi.
PERTANIAN MODERN: Pemberlakukan PM-AAS di Desa Candisari Kecamatan Purwodadi.

GROBOGAN- Kabupaten Grobogan mulai menggenjot percepatan produksi padi melalui penerapan metode Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS). 

Metode tersebut diterapkan untuk mempercepat masa tanam, menekan biaya produksi, sekaligus meningkatkan produktivitas padi.

Kegiatan tersebut digelar di lahan sawah Desa Candisari, Kecamatan Purwodadi, Grobogan, Rabu (30/9/2026). 

Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Tengah Arif Surahman mengatakan, penerapan PM-AAS merupakan bagian dari upaya mempercepat tanam dan meningkatkan produktivitas padi sesuai arahan Kementerian Pertanian.

Secara nasional, hingga Desember ditargetkan penanaman mencapai 1 juta hektare. 

Sementara Kabupaten Grobogan mendapat alokasi sekitar 7.800 hektare dan target tersebut disebut telah tercapai.

"Benih sudah tersalurkan dan selanjutnya dilakukan penanaman. Dukungan pembukaan saluran irigasi juga menjadi faktor positif dalam penerapan metode PM-AAS," kata Arif. 

Menurutnya, PM-AAS bukan sekadar metode tanam, tetapi mengintegrasikan berbagai teknik pertanian untuk membuat budidaya padi lebih efisien.

Metode PM-AAS juga telah diuji coba di 12 provinsi.

Dari uji coba tersebut, rata-rata hasil produksi disebut mencapai sekitar 10,4 ton per hektare. 

Bahkan, di sejumlah lokasi hasilnya dapat mencapai sekitar 12 ton per hektare. 

"Kondisi cuaca saat ini cukup mendukung untuk pelaksanaan tanam. Kalau nanti masuk musim penghujan, tentu metode akan disesuaikan atau dimodifikasi dengan kondisi di lapangan," ujarnya.

Arif menambahkan, penerapan metode tersebut juga berpotensi meningkatkan kebutuhan pupuk sesuai rekomendasi teknis. 

Sementara program MP3 di Grobogan telah terealisasi sekitar 3.200 hektare dengan pengajuan ERDKK mencapai 1.553.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan Wakid Mutowal mengatakan percepatan tanam juga didorong melalui penggunaan teknologi dan mekanisasi. 

Di antaranya dengan penerapan sistem tanam benih langsung (Tabela) maupun drum seeder.

"Ini diharapkan bisa mempercepat proses tanam, meningkatkan efisiensi tenaga kerja dan mengoptimalkan produktivitas padi," jelasnya.

Wakid menyebut penyuluh pertanian di Grobogan rata-rata memiliki wilayah binaan tiga hingga empat desa.

Karena itu, optimalisasi pendampingan kepada petani menjadi salah satu kunci agar penerapan pertanian modern dapat berjalan efektif.

Melalui sinergi seluruh penyuluh dan pemangku kepentingan, produksi padi Grobogan ditargetkan dapat menembus 1 juta ton pada tahun depan.

Tak hanya padi, diversifikasi komoditas juga mulai disiapkan.

Salah satunya pengembangan kedelai yang ditanam di sela-sela tanaman jagung. 

Potensinya diperkirakan mencapai sekitar 400 kilogram kedelai per hektare.

"Untuk 2027 direncanakan pengembangan budidaya kedelai seluas 5.000 hektare," ujarnya. 

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah Himawan mengatakan penerapan PM-AAS menjadi bagian dari gerakan modernisasi pertanian yang dilakukan di berbagai kabupaten/kota.

Menurutnya, PM-AAS diarahkan bukan hanya untuk mempercepat masa tanam, tetapi juga meningkatkan produktivitas melalui pengamatan dan perlakuan teknis yang tepat.

Keberhasilan penerapannya, lanjut dia, membutuhkan kolaborasi antara penyuluh, petani, petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), serta seluruh pemangku kepentingan.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Cerelia Jawa Tengah sekaligus Penanggung Jawab Swasembada Pangan Jawa Tengah, Rahmad, menyebut Jawa Tengah sedang mendorong peningkatan produksi pangan agar mampu bersaing secara nasional.

Pengawalan terhadap pertanaman pada akhir Juli, Agustus dan September dinilai penting agar produksi dapat diamankan untuk masa panen Oktober, November dan Desember.

Jika terjadi kendala, khususnya kekurangan air, koordinasi dengan instansi terkait harus segera dilakukan.

Staf Ahli Bupati Grobogan Bidang Sosial, Kemasyarakatan dan Sumberdaya Manusia Kukuh Prasetyo Rusady mengatakan sektor pertanian merupakan salah satu pilar utama perekonomian Grobogan sekaligus memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan.

"Pertanian harus terus ditingkatkan melalui inovasi, pemanfaatan teknologi dan penguatan sumber daya manusia," ujarnya mewakili Bupati Grobogan.

Berbagai tantangan seperti perubahan iklim, keterbatasan sumber daya air, alih fungsi lahan hingga regenerasi petani juga membutuhkan langkah strategis. 

Di antaranya melalui penguatan pendampingan, infrastruktur pertanian, kelembagaan kelompok tani dan sistem pertanian yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. (int)

Editor : Intan Maylani
pm-aas Pertanian Modern grobogan