GROBOGAN – Kekhawatiran soal kandungan radioaktif di kawasan wisata Bledug Kuwu, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, akhirnya terjawab.
Lumpur, air, hingga garam yang berada di kawasan fenomena alam tersebut telah diteliti oleh tim Politeknik Nuklir Indonesia di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Hasilnya, tingkat radioaktivitas pada sampel yang diperiksa berada di bawah ambang batas.
Kepala Bapperida Grobogan Afi Wildani mengatakan, penelitian tersebut dilakukan secara langsung oleh tim Politeknik Nuklir Indonesia pada November 2025.
Penelitian dilakukan untuk mengetahui kondisi lingkungan sekaligus memastikan ada atau tidaknya kandungan radioaktivitas pada material yang terdapat di kawasan Bledug Kuwu.
"Politeknik Nuklir Indonesia itu di bawah BRIN telah melakukan penelitian kandungan lumpur dan juga garam yang ada di Bledug Kuwu secara langsung, apakah itu terdampak atau mengandung radiasi atau tidak," kata Afi.
Dari hasil penelitian tersebut, kekhawatiran mengenai radioaktivitas pada lumpur dan garam Bledug Kuwu tidak terbukti membahayakan.
"Alhamdulillah ternyata di Bledug Kuwu itu tidak berbahaya, tidak mengandung radiasi atas lumpur maupun kandungan garamnya, yang sebelumnya diduga berisiko," ujarnya.
Afi menilai hasil penelitian tersebut dapat menjadi pijakan untuk melihat Bledug Kuwu dari perspektif yang lebih luas.
Tidak hanya sebagai objek wisata, kawasan tersebut memiliki potensi bahan alam yang dapat dikembangkan menjadi produk turunan dengan nilai ekonomi.
Dengan adanya hasil penelitian dari Politeknik Nuklir Indonesia, pengembangan potensi tersebut dapat dilakukan dengan dasar kajian ilmiah.
Ke depan, potensi lumpur dan garam Bledug Kuwu masih dapat dieksplorasi lebih jauh dengan tetap mengedepankan keamanan, penelitian lanjutan, serta proses pengolahan yang memenuhi ketentuan.
Sedangkan, Dosen Politeknik Nuklir Indonesia Lutfi Aditya Hasnowo menjelaskan, penelitian tidak hanya melihat kondisi kawasan secara umum. Tim juga mengambil sejumlah sampel untuk dianalisis, di antaranya lumpur, air, dan garam.
"Kemarin kita melakukan pemantauan dan analisis lingkungan, baik lingkungan di Bledug Kuwu maupun sampel-sampel lumpur, air dan juga garam," kata Lutfi.
Berdasarkan hasil analisis radioaktivitas, seluruh sampel yang diperiksa dinyatakan berada dalam kondisi aman.
"Hasil pantauan dan analisis kami terkait radioaktivitas semua aman, di bawah ambang batas," jelasnya.
Dengan hasil tersebut, keberadaan material lumpur dan garam di Bledug Kuwu tidak menunjukkan tingkat radioaktivitas yang melebihi batas yang ditetapkan dalam pengujian.
Selain radioaktivitas, tim juga melakukan analisis terhadap kandungan logam berat pada sampel lingkungan Bledug Kuwu.
Lutfi mengatakan, hasil sementara yang diperoleh juga menunjukkan kondisi yang aman. Namun, ia menegaskan penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai karakteristik material tersebut.
"Yang dari kita dapatkan itu hasilnya yang muncul juga aman, tapi itu masih perlu dikaji lebih lanjut," katanya.
Hasil penelitian ini juga membuka peluang baru bagi pengembangan Bledug Kuwu.
Selama ini, Bledug Kuwu dikenal sebagai destinasi wisata dengan fenomena semburan lumpur yang menjadi daya tarik utama. Namun, potensi kawasan tersebut dinilai tidak berhenti pada sektor pariwisata.
Lumpur dan garam yang terdapat di kawasan itu berpeluang dikembangkan menjadi produk bernilai tambah setelah melalui penelitian dan pengolahan yang sesuai.
Lutfi menyebut lumpur berpotensi dieksplorasi sebagai bahan scrub atau lulur. Sementara garamnya dapat dikembangkan menjadi bahan garam mandi.
"Bagaimana produk dari lumpur, garam itu bisa lebih menarik, nilai tambahnya meningkat. Bisa pariwisata juga, bisa dieksplorasi dari lumpur itu bisa digunakan menjadi bahan scrub, lulur, kemudian garamnya untuk garam mandi," ujarnya.
Bahkan, terdapat gagasan untuk mengolah lumpur tersebut menjadi bahan sabun.
Namun, potensi tersebut masih membutuhkan kajian lebih mendalam.
Hasil penelitian radioaktivitas yang aman menjadi salah satu informasi awal, tetapi aspek lain seperti kandungan kimia, keamanan penggunaan, karakteristik bahan, hingga standar pengolahan tetap perlu diperhatikan. (int)
Editor : Intan Maylani