GROBOGAN – Realisasi belanja modal Pemerintah Kabupaten Grobogan hingga 25 September 2026 masih berada di angka 18,26 persen.
Meski terlihat rendah, kondisi tersebut disebut tidak serta-merta menunjukkan pekerjaan di lapangan belum berjalan.
Berdasarkan Laporan Realisasi Anggaran (LRA) Konsolidasi Kabupaten Grobogan per 25 September 2026, anggaran belanja modal tahun ini mencapai Rp 449,26 miliar.
Sementara realisasinya baru Rp 82,08 miliar atau 18,26 persen.
Kepala Badan Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kabupaten Grobogan, Wahyu Susetijono, menjelaskan rendahnya realisasi tersebut salah satunya karena sejumlah pekerjaan yang sudah dikerjakan belum masuk dalam proses pengajuan pembayaran.
“Yang belanja modal masih rendah, karena mereka sudah mengerjakan tapi belum minta termin pembayaran,” kata Wahyu.
Dengan demikian, nilai pekerjaan yang telah berjalan di lapangan belum seluruhnya tercermin dalam angka realisasi keuangan daerah.
Wahyu mengatakan, pola seperti ini bukan hal yang asing dalam pelaksanaan anggaran.
Realisasi belanja modal biasanya mengalami peningkatan cukup tajam ketika memasuki penghujung tahun anggaran.
Ia memperkirakan pergerakan realisasi mulai terlihat pada Oktober, kemudian meningkat lebih signifikan pada November hingga Desember.
“Nanti Oktober sudah mulai ada kenaikan, naik tajam biasanya bulan November dan Desember,” ujarnya.
Jika dibandingkan dengan belanja modal, realisasi belanja operasi Grobogan hingga 25 September 2026 sudah jauh lebih tinggi.
Dari anggaran Rp 2,096 triliun, realisasi belanja operasi telah mencapai Rp 1,386 triliun atau 66,07 persen.
Komponen terbesar berasal dari belanja pegawai yang telah terealisasi sekitar Rp 941,42 miliar atau 70,10 persen dari anggaran Rp 1,343 triliun.
Sementara belanja barang dan jasa terealisasi sekitar Rp 379,60 miliar atau 61,38 persen dari anggaran Rp 618,38 miliar.
Adapun total belanja daerah Grobogan hingga 25 September 2026 mencapai sekitar Rp1,660 triliun dari pagu Rp 2,953 triliun, atau 56,22 persen.
Rendahnya realisasi belanja modal juga terlihat pada sejumlah komponennya.
Belanja modal jalan, jaringan, dan irigasi, misalnya, baru terealisasi sekitar Rp 34,66 miliar dari anggaran Rp 298,02 miliar, atau 11,62 persen.
Belanja modal gedung dan bangunan terealisasi sekitar Rp 10,99 miliar dari anggaran Rp 55,19 miliar atau 19,92 persen. Sedangkan belanja modal peralatan dan mesin mencapai Rp 32,08 miliar dari anggaran Rp 80,39 miliar atau 39,90 persen.
Dengan masih berlangsungnya sejumlah pekerjaan serta belum seluruhnya diajukan untuk pembayaran, realisasi belanja modal diperkirakan akan bergerak lebih cepat pada sisa waktu tahun anggaran. (int)
Editor : Intan Maylani