Dr. Sucik Rahayu Ketua STISS Grobogan Perempuan Muda di Balik Perkembangan STISS Jadi Rektor Termuda

Sirojul Munir • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 06:55 WIB
REKTOR TERMUDA - Dr. Sucik Rahayu, S.Pd., M.M. jadi Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STISS) Grobogan.
REKTOR TERMUDA - Dr. Sucik Rahayu, S.Pd., M.M. Ketua Sekolah Tinggi Islam Sunniyyah Seloa (STISS) Grobogan.

 

GROBOGAN — Dunia pendidikan tidak hanya membutuhkan mereka yang memiliki kapasitas akademik, tetapi juga sosok yang mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi kepemimpinan dan kerja nyata. Sosok itu salah satunya adalah Dr. Sucik Rahayu, S.Pd., M.M.

Di usia yang relatif muda, 37 tahun Sucik dipercaya memimpin Sekolah Tinggi Islam Sunniyyah Selo (STISS) Grobogan. Amanah tersebut berjalan beriringan dengan aktivitasnya sebagai dosen, pembicara dalam berbagai forum pendidikan, serta keterlibatannya dalam sejumlah organisasi dan kegiatan kelembagaan.

Perjalanan akademiknya pun tidak berhenti di jenjang magister. Sucik berhasil menyelesaikan Program Doktor Ilmu Ekonomi di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam waktu relatif cepat. Pendidikan doktoral tersebut ditempuh di tengah aktivitasnya dalam mengelola perguruan tinggi.

Bagi Sucik, kepemimpinan di lingkungan perguruan tinggi bukan sekadar persoalan jabatan. Ada tanggung jawab yang lebih besar untuk memastikan proses pendidikan berjalan, kualitas sumber daya manusia berkembang, serta mahasiswa memperoleh ruang untuk mengembangkan potensinya.

“Bagi saya, pendidikan adalah proses yang tidak pernah selesai. Setiap proses yang dijalani menjadi bagian dari pembelajaran untuk terus berkembang dan memberikan manfaat bagi mahasiswa, dosen, lembaga, serta masyarakat,” ungkapnya.

Sejumlah pembenahan dan pengembangan dilakukan di STISS Grobogan dalam beberapa tahun terakhir. Penguatan tata kelola kelembagaan, peningkatan layanan akademik, pengembangan program beasiswa, hingga penerimaan mahasiswa baru menjadi bagian dari proses yang terus dijalankan.

Perjalanan akademik STISS Grobogan juga ditandai dengan pelaksanaan wisuda yang telah berlangsung sebanyak dua kali. Momentum tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan kelembagaan sekaligus perjalanan para mahasiswa dalam menyelesaikan pendidikan tinggi.

Di sisi lain, aktivitas kemahasiswaan terus didorong agar tidak hanya berorientasi pada pembelajaran di ruang kelas. Mahasiswa diberikan kesempatan mengikuti berbagai kegiatan dan kompetisi untuk mengembangkan kemampuan, pengalaman, serta kepercayaan diri.

Sejumlah mahasiswa STISS Grobogan bahkan berhasil meraih prestasi dalam kompetisi hingga tingkat nasional maupun internasional.

Bagi Sucik, capaian mahasiswa menjadi salah satu indikator penting dalam melihat proses pendidikan. Kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan potensi dan pengalaman.

Pengembangan perguruan tinggi juga tidak dapat dilepaskan dari kualitas dosen. Karena itu, peningkatan kompetensi tenaga pengajar menjadi salah satu perhatian.

Para dosen didorong untuk terus meningkatkan kapasitas melalui sertifikasi, penelitian, publikasi ilmiah, hingga pengembangan karya akademik. Sejumlah karya bahkan diarahkan untuk memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun perguruan tinggi yang tidak hanya berkembang secara kuantitas, tetapi juga memiliki kualitas sumber daya manusia yang semakin baik.

Penguatan sarana dan prasarana turut berjalan beriringan. Berbagai fasilitas pendukung kampus dikembangkan secara bertahap sesuai kebutuhan, mulai dari area parkir, mushola, ruang BAAK, hingga fasilitas yang menunjang kegiatan akademik dan kemahasiswaan.

Kesibukan sebagai pimpinan perguruan tinggi tidak membuat Sucik meninggalkan aktivitas akademiknya. Ia tetap menjalankan peran sebagai dosen sekaligus pembicara dalam sejumlah forum pendidikan.

Ia juga aktif dalam kegiatan APTIKIS Wilayah X Jawa Tengah. Selain itu, kiprahnya dalam bidang pendidikan diperluas melalui LPK Maju Jaya Danyang dan Yayasan Maju Jaya Danyang.

Berbagai aktivitas tersebut menjadi bagian dari perjalanan Sucik dalam membangun jejaring sekaligus memperluas kontribusi di bidang pendidikan.

Perjalanan menyelesaikan pendidikan doktoral sembari menjalankan tanggung jawab sebagai pimpinan perguruan tinggi juga menjadi pengalaman tersendiri. Dua dunia yang berjalan bersamaan tersebut membentuk cara pandangnya dalam melihat kepemimpinan dan pengembangan lembaga.

Di balik berbagai perkembangan yang dicapai STISS Grobogan, Sucik tidak menempatkan dirinya sebagai satu-satunya aktor. Menurutnya, perguruan tinggi merupakan sebuah ekosistem yang dibangun bersama.

Dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, yayasan, hingga berbagai pihak yang menjalin kerja sama memiliki kontribusi masing-masing. Karena itu, setiap capaian yang diraih kampus dipandang sebagai hasil dari proses kolektif.

Bagi perempuan muda yang memilih menekuni dunia akademik sekaligus kepemimpinan perguruan tinggi tersebut, perjalanan masih panjang. Gelar doktor dan amanah sebagai pimpinan kampus bukanlah titik akhir, melainkan bagian dari proses untuk terus belajar dan berkembang.

Semangat itulah yang terus dibawa Sucik dalam menjalankan perannya di dunia pendidikan: bertumbuh bersama lembaga. .(mun)

 

Editor : Sirojul Munir
STISS Grobogaan Dr. Sucik Rahayu Perguruan Tinggi Grobogan grobogan hari ini