GROBOGAN– Di tengah gempuran kafe modern dan kedai kopi kekinian, Warung Kopi Mbah Dongkol di Desa Rejosari, Kecamatan Grobogan tetap berdiri kokoh menjaga tradisi. Berdiri sejak 1968, warung kopi legendaris ini tak sekadar menyajikan racikan biji kopi murni, tetapi juga menyimpan rekam jejak sejarah keluarga yang unik.
Pengelola Warung Kopi Mbah Dongkol, Yuli Budiyanto, menceritakan bahwa warung ini dirintis oleh neneknya, Mbah Suwarti, bersama sang suami, Mbah Sumardjo. Nama "Mbah Dongkol" sendiri memiliki asal-usul unik.
"Dongkol itu artinya mantan. Dulu Mbah Sumardjo adalah seorang Kamituwo (perangkat desa). Setelah purnatugas atau menjadi mantan Kamituwo, beliau dijuluki Mbah Dongkol," ujar Yuli.
Awalnya, warung ini beroperasi seperti warung makan komplit dari Subuh hingga siang. Namun, memasuki era 1990-an, Mbah Suwarti yang mulai dimakan usia tak lagi sanggup mengolah beragam masakan berat. Beliau memutuskan untuk fokus menjual kopi hitam saja. Keputusan tersebut rupanya tak meredupkan peminat; pelanggan justru terus berdatangan menikmati racikan kopi murninya. Bahkan saat Mbah Suwarti wafat pada 2021, para pelanggan setia mendesak agar warung segera dibuka kembali usai peringatan 7 hari wafatnya.
Sensasi Racik Sendiri ala Prasmanan
Daya tarik utama Warung Kopi Mbah Dongkol terletak pada konsep pelayanannya yang ala prasmanan. Pengunjung dibebaskan meracik takaran kopi dan gula sendiri sesuai selera, baik itu kental, manis, maupun pahit.
"Idealnya satu sendok kopi dan dua sendok gula, tapi pengunjung bebas mengambil sepuasnya. Untuk yang baru pertama kali datang, tentu kami bantu ajari," tutur Yuli.
Satu gelas kopi murni racikan sendiri ini dibanderol sangat terjangkau, yakni Rp4.000 per gelas. Tak hanya melayani penikmat di tempat, warung ini juga menjual kopi bubuk kemasan seharga Rp140.000 per kilogram. Menariknya, Warung Kopi Mbah Dongkol kini juga menjadi pemasok (supplier) biji dan bubuk kopi bagi warung-warung kopi kecil di dalam maupun luar daerah.
Gunakan Biji Robusta dan Mesin Sangrai Modern
Untuk menjaga konsistensi rasa, warung ini secara konsisten menggunakan biji kopi Robusta murni tanpa bahan campuran. Menurut Yuli, Robusta menjadi pilihan utama karena lebih ramah di lambung dibanding Arabika yang cenderung asam.
Proses pengolahannya pun telah mengalami modernisasi. Jika dulu biji kopi disangrai secara manual menggunakan wajan tanah liat (kreweng) dengan kapasitas maksimal 10 kg, kini proses tersebut memanfaatkan mesin sangrai modern.
"Dengan mesin, tingkat kematangannya jauh lebih merata dan sempurna. Sekali proses sangrai bisa mencapai 25 kg, dan biasanya stok itu habis hanya dalam dua hari," jelasnya.
Buka setiap hari mulai pukul 05.30 hingga 22.00 WIB, warung ini mampu menyedot lebih dari 200 pengunjung per hari. Uniknya, mayoritas pelanggan justru datang dari luar desa hingga luar kota. Meski operasional warung tutup pada pukul 22.00 WIB, pengunjung masih diperbolehkan nongkrong di area luar hingga dini hari dengan sistem self-service, menjaga kenyamanan warga sekitar. (mun)
Editor : Admin