Parade Dongeng dan Monolog Perdana Digelar di Grobogan, Jadi Wadah Talenta Seni Peran Pelajar

Sirojul Munir • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 16:21 WIB
MENGHIBUR – Salah satu peserta Monolog dari SMA N 1 Purwodadi menjiwai peran ditampilkan dalam Parade Monolog di Pendopo Kendi Cinta Purwodadi, Minggu (2/8)
MENGHIBUR – Salah satu peserta Monolog dari SMA N 1 Purwodadi menjiwai peran ditampilkan dalam Parade Monolog di Pendopo Kendi Cinta Purwodadi, Minggu (2/8)

 

GROBOGAN – Peringatan Hari Anak Nasional di Kabupaten Grobogan tahun ini dikemas berbeda. Puluhan pelajar dari tingkat SD hingga SMA/SMK unjuk kemampuan dalam Parade Dongeng dan Monolog bertema "Sayangi Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan" yang digelar di Pendopo Kendi Cinta, Jalan Kartini Nomor 11 Purwodadi.

Parade mendongeng berlangsung pada Sabtu (1/8), sedangkan parade monolog digelar Minggu (2/8). Kegiatan ini menjadi ajang pertama di Grobogan yang secara khusus mewadahi kemampuan pelajar dalam seni mendongeng dan monolog.

Parade mendongeng diikuti peserta berusia 9 hingga 17 tahun dari sembilan sekolah, yakni SDN 16 Purwodadi, SD Kristen Purwodadi, SD Islam Integral Luqman Al Hakim, SMPN 1 Purwodadi, SMPN 2 Purwodadi, SMP Kristen Purwodadi, SMAN 1 Purwodadi, serta SMKN 1 Purwodadi.

Sementara itu, parade monolog diikuti pelajar usia 13 hingga 17 tahun yang berasal dari SMP Kristen Purwodadi, SMAN 1 Purwodadi, dan SMKN 1 Purwodadi.

Berbagai penampilan berhasil memukau penonton. Penampilan pembuka dibawakan Rifan dari Teater Paradoks SMKN 1 Purwodadi melalui monolog berjudul interogasi. Ia memerankan sosok yang tengah menjalani interogasi. Suasana panggung dibuat dramatis dengan latar layar bergambar wajah yang sedang diperiksa, lampu sorot, replika senapan, serta bingkai yang memperkuat nuansa psikologis tokoh.

Penampilan berikutnya dibawakan Akio Satrianagari dari SMP Kristen Purwodadi. Meski baru pertama belajar monolog, Akio mampu menyampaikan pesan mengenai ketergantungan anak terhadap telepon genggam. Dalam pementasan tersebut, telepon seluler digambarkan sebagai teman sekaligus sumber berbagai godaan.

Dikisahkan dengan menyindir kedua orang tua bebas memakai handphone bisa ketawa ketiwi. Sedangkan anak diperingatkan untuk belajar dan tidak main handphone. Pesan yang ingin disampaikan ialah bahwa teknologi bukanlah musuh, melainkan manusia yang harus mampu mengendalikan penggunaannya agar menjadi sarana belajar dan menunjang kehidupan.

Suasana kembali hening saat Arsha dari SMKN 1 Purwodadi membawakan monolog berjudul Boneka. Naskah tersebut mengisahkan seorang perempuan desa korban perbudakan seksual pada masa penjajahan.

Tokoh utama kehilangan martabat dan kebebasan hingga akhirnya menemukan keberanian untuk bangkit menjadi manusia seutuhnya. Lantunan suara azan yang mengiringi pertunjukan semakin memperkuat pesan spiritual dalam pementasan tersebut.

Tak kalah menarik, Adit dari SMKN 1 Purwodadi membawakan monolog berjudul Ikan, karya Alex Purwo. Kisah tersebut menceritakan seorang laki-laki yang sejak kecil tumbuh dengan tekanan hidup karena dianggap terlalu lembut. Melalui simbol melepaskan ikan ke sungai, tokoh utama akhirnya belajar melepaskan keinginan orang lain dan menerima dirinya sendiri. Pesan yang disampaikan bahwa kelembutan bukanlah kelemahan mendapat apresiasi dari penonton.

Rut dari SMA N 1 Purwodadi tampil membawakan monolog lain berjudul Jamuar, yang juga merupakan karya Alex Purwo. Penampilan tersebut dengan didukung oleh berbagai ornamen pohon jamur mulai dari ukuran besar sampai kecil.

Panitia penyelenggara sekaligus penulis naskah, Alex Purwo, mengaku terharu melihat para peserta mampu menghidupkan karakter yang ia tulis.

"Saat saya membuat naskah, saya sendiri sampai menangis. Ketika dipentaskan, gestur tubuh para pemain mampu menyampaikan pesan itu. Dalam teater, tidak cukup hanya menghafal dialog, tetapi harus mampu menghidupkan karakter," ujarnya.

Alex menjelaskan, parade tersebut digelar sebagai wadah bagi pelajar untuk belajar dan mengembangkan kemampuan mendongeng maupun monolog. Menurutnya, dua cabang seni tersebut masih sangat jarang diperlombakan, padahal langsung menjadi bagian dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS2N).

"Melalui kegiatan ini kami ingin menjadi jembatan sebelum mereka mengikuti FLS2N. Mereka memiliki kesempatan berlatih dan tampil sehingga lebih matang ketika mengikuti kompetisi," katanya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut merupakan yang pertama kali digelar di Kabupaten Grobogan. Tingginya antusiasme peserta maupun dukungan masyarakat diharapkan mampu menjadikan parade ini sebagai agenda tahunan.

"Kami berharap kegiatan ini bisa terus berlanjut. Respons masyarakat sangat baik, termasuk dari Dinas Pendidikan. Harapannya ke depan bisa menjadi agenda resmi, sehingga para pemenang memperoleh piagam yang dapat dimanfaatkan sebagai prestasi siswa untuk melanjutkan pendidikan," tandasnya.

Alex Purwo sendiri dikenal sebagai pegiat teater yang pernah aktif di Teater DOM, Teater Rush, Teater Roping, hingga tampil dalam berbagai panggung internasional. Seluruh naskah monolog yang dipentaskan pada parade tersebut merupakan karya orisinalnya. Rata-rata peserta ikut monolog latihan tiga pekan sampai satu bulan. (mun)

 

Editor : Admin
Parade Mendongeng dan Monolog Purwodadi Alex Purwo grobogan hari ini hari anak nasional