GROBOGAN – Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan mencatat sebanyak 74 kasus baru Orang Dengan HIV (ODHIV) ditemukan selama periode Januari hingga Mei 2026.
Temuan tersebut berasal dari berbagai kelompok masyarakat, termasuk kelompok Laki Seks dengan Laki-laki (LSL) yang kerap dikaitkan dengan LGBT.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Grobogan, Sri Hadi Nugroho, mengatakan kasus HIV baru tidak hanya ditemukan pada kelompok berisiko tinggi, tetapi juga masyarakat umum.
"Dari Januari sampai Mei 2026 ditemukan 74 ODHIV baru," ujarnya.
Berdasarkan data Dinkes, kelompok masyarakat umum menjadi penyumbang kasus terbanyak dengan 22 orang.
Selanjutnya pasangan berisiko tinggi sebanyak 11 orang, penderita tuberkulosis (TB) sembilan orang, pasangan ODHIV enam orang, calon pengantin lima orang, ibu hamil lima orang, pelanggan pekerja seks lima orang, kelompok LSL empat orang, penderita infeksi menular seksual (IMS) tiga orang, pekerja seks perempuan (WPS) dua orang, dan anak ODHIV dua orang.
Meski hanya ditemukan empat kasus baru pada LSL, Dinkes menilai kelompok tersebut tetap menjadi perhatian karena tingkat pemeriksaan HIV masih rendah.
Hingga Mei 2026, dari target 350 orang LSL yang harus menjalani skrining HIV, baru 61 orang yang berhasil diperiksa.
Rendahnya capaian tersebut membuat potensi kasus yang belum terdeteksi masih cukup besar.
Padahal, deteksi dini menjadi kunci penting dalam pengendalian HIV agar penderita segera mendapatkan terapi dan tidak menularkan virus kepada orang lain.
Secara keseluruhan, hingga Mei 2026 jumlah warga yang telah menjalani tes HIV di Grobogan mencapai 17.707 orang.
Pemeriksaan dilakukan pada berbagai kelompok sasaran, mulai dari ibu hamil, calon pengantin, penderita TB, pasien IMS hingga kelompok populasi berisiko lainnya.
Nugroho menjelaskan, saat ini Dinas Kesehatan terus memperluas layanan skrining HIV di fasilitas kesehatan dan meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar tidak takut menjalani pemeriksaan.
Menurutnya, HIV tidak hanya menyerang kelompok tertentu sehingga kesadaran untuk melakukan tes perlu ditingkatkan, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko.
"Semakin cepat diketahui, semakin cepat pula pengobatan dapat diberikan. Meski sebenarnya selama ini obat yang diberikan sebatas anti viral yang fungsinya menekan pertumbuhan virus yang ada di dalam tubuh," pungkasnya. (int)
Editor : Admin