GROBOGAN – Harga Pertamax resmi naik Rp 4.000 per liter. Meski belum terlihat antrean maupun kepanikan di SPBU, Disperindag Grobogan mulai memasang kewaspadaan terhadap kemungkinan membludaknya permintaan Pertalite.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Grobogan, Pradana Setyawan, mengatakan hingga Rabu (10/6) Siang, pihaknya belum menemukan adanya antrean panjang di sejumlah SPBU sebagai dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi tersebut.
“Pantauan hari ini belum ada antrean di SPBU akibat kenaikan BBM. Untuk stok BBM di SPBU aman,” ujarnya.
Menurut Danis -sapaan akrabnya-, peralihan pengguna Pertamax ke Pertalite yang sempat dikhawatirkan juga belum terlihat.
Ia menduga sebagian masyarakat masih belum mengetahui informasi kenaikan harga Pertamax yang berlaku mulai hari ini.
“Untuk kemungkinan beralihnya pengguna Pertamax ke Pertalite hari ini belum tampak di SPBU. Mungkin masih banyak yang belum mengetahui berita kenaikan harga,” katanya.
Meski demikian, Disperindag tetap mewaspadai potensi lonjakan konsumsi Pertalite dalam beberapa hari ke depan.
Kenaikan harga Pertamax dinilai dapat mendorong sebagian pengguna BBM nonsubsidi beralih ke BBM bersubsidi.
“Pertamax kalau naik harusnya memang permintaan turun. Yang kami waspadai justru Pertalite. Kemungkinan konsumen pindah ke Pertalite,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Disperindag telah mengimbau paguyuban pengelola SPBU agar memperketat pengawasan penyaluran BBM bersubsidi.
Penggunaan barcode subsidi tepat sasaran diminta menjadi prioritas.
“Kami mengimbau SPBU lebih ketat terhadap penyaluran BBM subsidi. Penggunaan barcode subsidi tepat sasaran harus diutamakan,” tegas Danis.
Ia juga meminta masyarakat tidak melakukan pembelian secara berlebihan karena pasokan BBM di Grobogan masih dalam kondisi aman.
Sementara itu, terkait kuota BBM Kabupaten Grobogan tahun 2026, Danis mengaku belum dapat menyampaikan data resmi.
Hingga saat ini pemerintah daerah masih menunggu surat penetapan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
“Untuk kuota BBM tahun 2026 sampai saat ini belum ada surat resmi dari Kementerian ESDM, sehingga kami belum bisa menyampaikan data kuotanya,” katanya.
Di sisi lain, kenaikan harga Pertamax ternyata tidak serta merta membuat seluruh konsumen berencana beralih ke Pertalite.
Salah satunya, Tya, warga Grobogan yang mengaku tetap akan menggunakan Pertamax meski harganya naik cukup signifikan.
Menurutnya, performa kendaraan menjadi pertimbangan utama dibanding selisih harga BBM.
“Motor saya cocoknya pakai Pertamax. Kalau pakai Pertalite mesinnya kurang mantap. Karena motornya keluaran baru, daripada rusak mending tetap pakai Pertamax,” ujarnya.
Meski demikian, Tya berharap kenaikan harga BBM tidak terus berlanjut. “Tapi jangan naik Rp 4.000. Kalau naik sedikit masih terjangkau, tidak masalah,” pungkasnya. (int)
Editor : Admin