GROBOGAN – Ratusan warga antusias membeli hasil pertanian dan peternakan dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Purwodadidalam acara Car Free Day di jalan R Soeprapto Purwodadi, Minggu pagi (7/6).
Kepala Lapas Kelas IIB Purwodadi Erik Murdiyanto mengatakan, hasil pertanian tersebut merupakan kerja keras dari tangan warga binaan Lapas Purwodadi, yang selama ini mengikuti program pembinaan kemandirian.
Antusiasme masyarakat terhadap produk tersebut terbilang tinggi. Hanya dalam waktu singkat, seluruh hasil panen dan peternakan yang dipasarkan ludes terjual.
"Keberhasilan itu menjadi bukti bahwa program ketahanan pangan yang dikembangkan di dalam lapas tidak hanya berjalan baik, tetapi juga mampu menghasilkan produk yang diminati masyarakat," jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, Lapas Purwodadi memasarkan 20 kilogram telur ayam hasil peternakan warga binaan, 17 kilogram terong yang dikemas menjadi 26 plastik, serta 10 kilogram kangkung yang dikemas dalam 30 ikat.
Seluruh komoditas tersebut berasal dari lahan pertanian dan peternakan yang dikelola secara mandiri oleh warga binaan di lingkungan lapas.
Sejak stan dibuka, pembeli terus berdatangan. Banyak warga yang sengaja membeli karena penasaran dengan kualitas produk hasil pembinaan warga binaan.
Sebagian lainnya mengaku tertarik karena harga yang ditawarkan relatif terjangkau dengan kualitas yang tidak kalah dibanding produk di pasaran.
Dari penjualan tersebut, Lapas Purwodadi berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 588 ribu.
Rinciannya, Rp 480 ribu berasal dari penjualan telur ayam, Rp 78 ribu dari penjualan terong, dan Rp 30 ribu dari penjualan kangkung.
"Pemasaran hasil pertanian dan peternakan melalui CFD merupakan bagian dari upaya memperkenalkan hasil program pembinaan kepada masyarakat.
Sekaligus membuktikan bahwa warga binaan mampu menghasilkan produk yang bernilai ekonomis," ungkapnya.
Menurutnya, program ketahanan pangan yang dijalankan di dalam lapas tidak semata-mata bertujuan menghasilkan keuntungan.
Melainkan menjadi sarana pembelajaran bagi warga binaan agar memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah bebas nanti.
“Program ketahanan pangan tidak hanya menghasilkan produk yang bernilai ekonomis, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi warga binaan untuk mengembangkan keterampilan di bidang pertanian dan peternakan.
Harapannya, ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat menjadi bekal usaha mandiri ketika mereka telah selesai menjalani masa pidana,” ujarnya.
Erik menjelaskan, selama mengikuti program pembinaan, warga binaan diberikan kesempatan untuk terlibat langsung dalam berbagai aktivitas produktif mulai dari pengolahan lahan, penanaman, perawatan tanaman, hingga pengelolaan peternakan.
Melalui proses tersebut mereka tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga belajar mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, dan manajemen usaha sederhana.
Program ketahanan pangan yang dijalankan Lapas Purwodadi juga sejalan dengan kebijakan akselerasi yang dicanangkan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Khususnya dalam mendukung ketersediaan pangan serta peningkatan kualitas pembinaan warga binaan.
Menurut Erik, kegiatan pemasaran melalui CFD menjadi momentum penting untuk mendekatkan hasil karya warga binaan kepada masyarakat.
Selain memberikan manfaat ekonomi, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu mengubah stigma negatif terhadap warga binaan dengan menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk berkarya secara produktif.
“Ini menjadi salah satu cara kami memperlihatkan bahwa pembinaan di lapas berjalan dan menghasilkan sesuatu yang positif. Masyarakat dapat melihat langsung hasil kerja warga binaan yang memiliki kualitas baik dan layak bersaing,” katanya. (mun)
Editor : Admin