GROBOGAN – Tradisi sedekah bumi atau apitan kembali digelar meriah oleh warga Desa Taruman, Kecamatan Klambu, Kabupaten Grobogan. Ratusan warga tumpah ruah mengikuti rangkaian prosesi adat yang berlangsung khidmat sekaligus meriah di kawasan Sendang Sucen, Minggu (10/5).
Warga datang membawa berkat berisi nasi, ayam, serta aneka lauk-pauk sebagai simbol rasa syukur atas hasil bumi yang diperoleh selama setahun terakhir. Suasana khas pedesaan terasa begitu kental sejak pagi hari ketika masyarakat mulai berdatangan mengenakan pakaian tradisional.
Tradisi tahunan tersebut diawali dengan ritual penyucian diri di Sendang Sucen. Para penari tayub bersama istri perangkat desa menjalani prosesi sesuci dengan membasuh kaki, tangan, dan wajah menggunakan air sendang yang dipercaya masyarakat memiliki nilai spiritual dan menjadi bagian penting dalam tradisi merti desa.
Di sekitar sendang, lantunan musik karawitan mulai terdengar mengiringi jalannya ritual adat. Setelah prosesi bersuci selesai, acara dilanjutkan dengan pertunjukan tari tayub yang menjadi bagian utama sedekah bumi Desa Taruman.
Tiga penari tayub tampil membawakan tarian tradisional diiringi gamelan Jawa yang mengalun khas. Kepala Desa Taruman Kasir bersama perangkat desa tampak ikut menari bersama penari tayub. Suasana pun semakin semarak ketika warga bergantian ikut berjoget mengikuti irama karawitan.
Pertunjukan tayub berlangsung sekitar satu jam dan menjadi hiburan rakyat yang paling ditunggu warga setiap pelaksanaan sedekah bumi. Tradisi itu disebut sudah berlangsung turun-temurun dan tetap dipertahankan hingga sekarang.
Kepala Desa Taruman Kasir mengatakan, tari tayub selalu menjadi bagian wajib dalam tradisi merti desa di wilayahnya. Menurutnya, kesenian tradisional tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga simbol kebersamaan masyarakat.
“Prosesi tari tayub dalam sedekah bumi merti Desa Taruman sudah menjadi tradisi turun-temurun. Jadi kalau ada merti desa, harus ada tayub,” ujarnya.
Selain tayuban, tradisi sedekah bumi juga diwarnai penyembelihan hewan kurban berupa dua ekor kerbau dengan jenis berbeda, yakni kerbau bule berwarna putih dan kerbau biasa. Prosesi tersebut dilakukan sebagai bagian dari ritual selamatan desa.
Usai rangkaian ritual adat, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama dan makan bersama ratusan warga yang hadir. Berkat yang sebelumnya dibawa warga kemudian disantap bersama-sama dalam suasana guyub penuh keakraban.
Kasir menyebut sedekah bumi menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen dan rezeki yang diterima selama setahun terakhir.
“Ini sebagai rasa syukur atas nikmat dan hasil bumi yang diberikan selama setahun ini,” katanya.
Ia menambahkan, rangkaian sedekah bumi tidak hanya berlangsung satu hari. Pada malam harinya, warga kembali menggelar tasyakuran di balai desa. Kemudian pada hari berikutnya masih ada dua sesi kegiatan sedekah bumi dan doa bersama.
Sementara itu, Sri Mulyati, istri Kepala Desa Taruman, mengatakan seluruh istri perangkat desa turut mengenakan kebaya selama prosesi berlangsung sebagai bentuk penghormatan terhadap adat dan budaya desa.
Menurutnya, tradisi sedekah bumi menjadi momentum mempererat kebersamaan warga sekaligus memanjatkan harapan agar desa tetap aman, tenteram, dan makmur.
“Harapannya masyarakat tetap tentrem, ayem, aman, dan gemah ripah loh jinawi,” ujarnya.
Kegiatan sedekah bumi tersebut juga mendapat perhatian dari Perhutani. Asper BKPH Penganten KPH Perhutani Purwodadi, Ari Gunawan, mengatakan lokasi Sendang Sucen berada di kawasan petak 41 B Pakem BKPH Penganten yang selama ini menjadi sumber air penting bagi masyarakat sekitar.
Menurutnya, tradisi sedekah bumi di Desa Taruman rutin dilaksanakan setiap tahun dan menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan harmonis antara masyarakat dengan alam.
“Kegiatan sedekah bumi rutin dilakukan setiap tahun. Harapannya masyarakat ikut menjaga kelestarian hutan dan sumber air di sekitar Desa Taruman,” katanya.
Ia berharap kesadaran masyarakat dalam menjaga kawasan hutan terus meningkat sehingga sumber mata air di wilayah tersebut tetap lestari dan dapat dimanfaatkan generasi mendatang.(mun)
Editor : Admin