GROBOGAN– Rendahnya konsumsi ikan di Kabupaten Grobogan menjadi perhatian serius. Untuk mendongkrak minat masyarakat, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) setempat menggelar pelatihan pengolahan hasil perikanan yang menyasar pelaku usaha hingga masyarakat umum, Rabu (6/5/2026).
Upaya ini sekaligus menjadi strategi mendorong ikan tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk segar, tetapi juga diolah menjadi produk yang lebih variatif, praktis, dan bernilai jual tinggi.
Kegiatan yang berlangsung di aula kantor Disnakkan ini diikuti 50 peserta dari berbagai wilayah, mulai dari perwakilan BUMDes, kelompok pengolah hingga masyarakat umum.
Pelatihan ini merupakan bagian dari program pemberian fasilitas bagi pelaku usaha perikanan skala mikro dan kecil tahun 2026.
Kepala Disnakkan Grobogan Amin Nur Hatta melalui Kabid Perikanan, drh Bambang Yulianto, menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan langkah konkret untuk menggerakkan sektor hilir perikanan.
“Melalui ini kami harapkan mampu meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengolah ikan menjadi produk bernilai tambah, sehingga bisa mendongkrak nilai jual sekaligus pendapatan,” ujarnya.
Menurutnya, potensi perikanan air tawar di Grobogan sangat besar. Komoditas seperti lele, nila, gurame hingga tawes selama ini menjadi andalan produksi daerah.
Data Disnakkan mencatat, terdapat 1.545 nelayan atau penangkap ikan, 2.108 pembudidaya ikan, serta 94 pelaku usaha pengolah dan pemasaran hasil perikanan.
Total produksi mencapai 4.673,06 ton, sementara produksi olahan masih di angka 334,54 ton.
Ironisnya, tingginya produksi belum sejalan dengan tingkat konsumsi. Angka Konsumsi Ikan (AKI) Grobogan pada 2025 baru mencapai 23,51 kg per kapita per tahun atau sekitar 64,4 gram per hari.
Jumlah tersebut masih jauh dari standar ideal nasional 100 gram per orang per hari.
“Ini pekerjaan rumah bersama. Salah satu cara mengatasinya adalah membuat ikan lebih menarik lewat berbagai olahan,” jelas Bambang.
Dalam pelatihan ini, peserta diajari membuat beragam olahan seperti siomay tahu ikan, fillet lele, bandeng duri lunak, hingga bandeng tanpa duri.
Olahan yang dinilai lebih praktis dan disukai berbagai kalangan, termasuk anak-anak.
Selain mendorong konsumsi, pelatihan ini juga membuka peluang usaha baru. Dengan inovasi produk, ikan diharapkan tak lagi sekadar bahan mentah, melainkan komoditas bernilai ekonomi tinggi.
“Kami ingin peserta tidak hanya bisa mengolah, tapi juga mengembangkan usaha dari produk tersebut,” tambahnya.
Program ini juga selaras dengan kebijakan pemerintah pusat, termasuk program makan bergizi gratis (MBG), yang mendorong konsumsi protein berbasis ikan secara rutin.
“Dengan inovasi, ikan bisa tampil lebih menarik di meja makan. Ini penting untuk membangun kebiasaan konsumsi sejak dini,” pungkasnya. (int)
Editor : Admin