GROBOGAN – Korban meninggal dunia dalam kecelakaan rombongan pengantar jamaah haji yang tertemper Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek di perlintasan Desa Sidorejo, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, kembali bertambah.
Indah Setyowati (26), yang sebelumnya sempat mendapatkan perawatan intensif dan dirujuk ke RS Sultan Agung Semarang, dinyatakan meninggal dunia pada Jumat malam (1/5/2026) sekitar pukul 22.30 WIB.
Jenazah korban setibanya di rumah duka Desa Sidorejo Kecamatan Pulokulon sekitar pukul 02.00 Sabtu (2/5), langsung dimakamkan sekitar pukul 10.00 WIB.
Kabar duka tersebut menambah luka mendalam bagi Ahmad Deni Mutia, suami Indah, yang hingga kini masih sulit menerima kepergian istri dan anaknya dalam tragedi memilukan tersebut.
“Saya awalnya nggak tahu kronologi awalnya. Tahu-tahu ada yang telepon, katanya ada mobil putih kecelakaan tertabrak kereta api,” ujar Deni saat ditemui, Sabtu (2/5/2026).
Tanpa berpikir panjang, Deni mengaku langsung bergegas menuju lokasi kejadian. Namun sesampainya di tempat, pemandangan yang ia lihat membuatnya terpukul.
Ia mendapati sejumlah korban sudah tergeletak di sekitar perlintasan rel. Sebagian korban telah meninggal dunia, sementara korban selamat sudah dievakuasi menjauh dari lokasi.
“Saya berada di mobil paling depan. Pas saya datang, korban sudah banyak yang tergeletak. Yang masih selamat sudah keluar dari area, tapi yang meninggal masih di lokasi,” katanya.
Dalam kondisi panik dan diliputi kecemasan, Deni langsung mencari keluarganya di antara para korban. Bahkan ia sempat membantu proses evakuasi korban yang tertimbun lumpur di sekitar lokasi kejadian.
“Saya langsung terjun mencari korban. Ada yang tertimbun lumpur, saya angkat dan saya bersihkan,” ungkapnya.
Deni menjelaskan, rombongan keluarga saat itu menggunakan beberapa kendaraan.
Mobil pertama ditumpangi dirinya bersama bapaknya. Sedangkan mobil kedua berisi istri dan anaknya, yang kemudian tertemper KA Argo Bromo Anggrek.
Sementara mobil ketiga ditumpangi ibunya yang berada di rombongan belakang.
“Posisinya saat itu saya di mobil paling pertama sama bapak. Mobil kedua diisi rombongan istri dan anak yang tertemper kereta. Mobil ketiga baru mobil yang ditumpangi ibu,” jelasnya.
Deni menyebut, kondisi di lokasi perlintasan saat dini hari itu diduga berkabut sehingga jarak pandang menjadi terbatas. Hal ini membuat pengemudi sulit melihat kedatangan kereta.
Menurutnya, posisi rel yang menikung juga membuat kereta baru terlihat ketika jaraknya sudah sangat dekat.
“Kaca depan mungkin sudah tertutup kabut. Jarak pandang ke samping kanan kiri juga nggak kelihatan. Relnya juga agak menikung, jadi kereta baru terlihat saat sudah dekat,” bebernya.
Bahkan, menurut keterangan salah satu korban di dalam mobil tersebut kondisi mobil sudah berada di tengah rel dan dalam keadaan mesin mati
Deni berharap tragedi serupa tidak kembali terjadi. Ia meminta adanya perhatian serius terkait keamanan di perlintasan kereta api Desa Sidorejo, karena menurutnya kecelakaan di lokasi tersebut sudah kerap terjadi.
Ia berharap pemerintah maupun pihak terkait segera memasang palang pintu resmi dan menghadirkan petugas jaga selama 24 jam.
“Harapan saya, ada pengamanan yang lebih baik. Soalnya di situ sering banget terjadi kecelakaan. Palang kereta resmi dan ada yang jaga 24 jam. Harapannya dijaga 24 jam,” tegasnya.
Seperti diketahui, kecelakaan terjadi saat mobil rombongan pengantar jamaah haji melintas di perlintasan rel Desa Sidorejo pada dini hari. Kendaraan tersebut tertemper KA Argo Bromo Anggrek hingga menyebabkan sejumlah korban meninggal dunia.
Dengan meninggalnya Indah Setyowati, total korban jiwa dalam insiden tragis tersebut kini menjadi lima orang, termasuk istri dan anak Deni. (int)
Editor : Admin