Setelah salah satu mobil rombongan tertabrak Kereta Api Argo Bromo Anggrek di perlintasan sebidang antara Desa Sidorejo dan Desa Tuko, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, sekitar pukul 02.52 WIB.
Salah satu kerabat korban, Siti Muntiah, menceritakan detik-detik mengerikan yang ia saksikan langsung.
Ia berada di kendaraan rombongan tepat di belakang mobil yang tertabrak.
Dari jarak dekat, ia melihat mobil terseret hingga masuk ke area persawahan.
Rasa lemas dan panik langsung menyelimuti, karena mengetahui di dalam kendaraan tersebut terdapat anggota keluarganya.
Keluarga besar berkumpul sejak malam untuk mengantar pasangan calon haji.
Rombongan berangkat sekitar pukul 02.30 WIB menggunakan dua mobil Toyota Avanza dan dua bus.
Namun baru menempuh perjalanan sekitar 2,5 kilometer dari rumah, mobil Avanza yang berisi sembilan anggota keluarga tertemper kereta yang melaju dari arah barat.
Dari sembilan penumpang, empat orang meninggal dunia dan lima lainnya mengalami luka-luka.
Salah satu korban meninggal merupakan cucu pasangan calon haji, Sazhia Belvania Mulia.
Menantu pasangan tersebut, Indah Setyowati, termasuk korban luka yang kini dirawat di RSUD dr. R. Soedjati Purwodadi.
Sementara anak pasangan calon haji, Ahmad Deni, selamat karena berada di kendaraan berbeda dan kini mendampingi istrinya di rumah sakit.
Korban meninggal lainnya yakni Dalni dan Muhamad Sakroni warga Desa Kemloko, Kecamatan Godong, serta Naila Dwi K warga Pulokulon. Lima korban luka lainnya mengalami berbagai cedera mulai luka ringan hingga cedera kepala.
Kepala Dusun Sidorejo, Heri Siswanto, menjelaskan mobil korban terpental sekitar 10 meter, sempat menabrak tiang jaringan internet sebelum akhirnya jatuh ke sawah.
Saat kejadian, kondisi sekitar diselimuti kabut sehingga jarak pandang terbatas.
Perlintasan tersebut juga tidak dilengkapi palang pintu dan tidak ada penjaga saat peristiwa terjadi.
Usai kejadian, kereta sempat melakukan Berhenti Luar Biasa di Stasiun Kradenan untuk pemeriksaan sarana sebelum melanjutkan perjalanan.
Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Luqman Arif, menyampaikan duka cita dan mengingatkan masyarakat agar selalu mendahulukan perjalanan kereta api saat melintas di perlintasan sebidang.
Pihak kepolisian menyebut kecelakaan terjadi karena jarak pandang terbatas saat kendaraan melintas di perlintasan tanpa palang.
Kasus ini kembali menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan dan disiplin masyarakat demi mencegah tragedi serupa terulang. (int/mun)