GROBOGAN – Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X Jawa Tengah melakukan konservasi terhadap sekitar 1.000 jenis koleksi nonfosil di Museum Lokal Grobogan. Kegiatan tersebut berlangsung dari 24-27 April 2026.
Konservator BPK Wilayah X Jateng, Septiani, menjelaskan kegiatan ini dilakukan untuk menjaga kondisi koleksi agar tetap awet dan tidak mengalami kerusakan lebih parah.
Menurutnya, sebelum dilakukan tindakan konservasi, pihaknya terlebih dahulu mengecek kondisi setiap objek.
“Pertama kita cek dulu kondisi masing-masing objek. Karena setiap objek beda penanganannya.
Terakhir dikonservasi tahun 2022, jadi kita cek ulang. Kalau rata-rata masih bagus, kita bersihkan kering saja,” katanya.
Menurutnya, pembersihan ringan dilakukan dengan metode sederhana namun aman, seperti menggunakan vacuum cleaner, sikat gigi, maupun kuas.
“Pembersihannya bisa pakai vacuum cleaner, sikat gigi, atau kuas. Itu untuk mengangkat debu yang menempel,” jelasnya.
Namun, jika ditemukan koleksi yang sudah mulai berkarat, maka penanganannya lebih intensif.
Septiani menyebut, karat akan dibersihkan menggunakan bahan khusus seperti pasta, jeruk nipis, dan soda kue.
“Nanti kalau ada yang berkarat, kita bersihkan pakai pasta, jeruk nipis, dan soda kue. Diggosok supaya bersih, lalu dicuci dan dikeringkan. Setelah itu diberi coating menggunakan acrylic lacquer yang clear,” paparnya.
Adapun koleksi yang dikonservasi merupakan benda-benda nonfosil, meliputi material logam, batu, wayang kulit, kayu, hingga keramik.
Ia menegaskan, perawatan koleksi museum seharusnya dilakukan secara rutin melalui monitoring harian atau minimal sebulan sekali.
Jika terlihat kotor, pembersihan cukup dilakukan secara kering. Namun jika muncul karat, maka perlu perlakuan khusus.
“Perawatan itu harus rutin. Bisa monitoring setiap hari atau sebulan sekali. Kalau kotor, dibersihkan kering. Tapi kalau setelah monitoring muncul karat, perlu dibersihkan dengan bahan khusus,” terangnya.
Septiani menilai penataan koleksi di Museum Lokal Grobogan sudah cukup baik karena sebagian besar sudah ditempatkan dalam etalase kaca.
Kondisi ini membantu menjaga lingkungan koleksi agar tetap stabil sehingga kerusakan dapat diperlambat.
“Penempatannya sudah bagus, sudah ada etalase kaca. Itu membantu mempertahankan kondisi lingkungannya agar tetap baik, sehingga memperlambat kerusakan.
Selain itu juga diberi pengawet untuk mengurangi kelembapan udara di dalam,” pungkasnya.
Dengan konservasi yang dilakukan secara berkala, Septiani berharap koleksi-koleksi Museum Lokal Grobogan dapat terus terjaga dan tetap layak dipamerkan kepada masyarakat. (int)
Editor : Admin