GROBOGAN - Athaya Putra Agfani menjadi Jamaah Haji Termuda Kabupaten Grobogan Tahun 2026. Usianya baru 17 tahun. Masih berada di bangku kelas XI sebuah SMK N 1 Purwodadi.
Masa yang bagi kebanyakan remaja diisi dengan rencana masa depan, pertemanan, atau sekadar menikmati fase muda. Tapi bagi Athaya, masa itu diwarnai dengan hafalan doa talbiyah, pemahaman rukun haji, dan latihan manasik yang rutin dijalani.
Di balik ketenangan wajahnya, tersimpan kisah yang tak sederhana. Perjalanan ini bukan hanya miliknya. Ia adalah penerus sebuah niat yang pernah ditanamkan sang ayah—niat yang sempat terhenti oleh takdir.
Tahun 2013 bulan Januari, keluarganya mendaftar haji. Saat itu, Athaya masih bocah kecil berusia empat tahun.
Ia bahkan belum memahami apa itu haji, apalagi membayangkan suatu hari akan menggantikan posisi ayahnya. Hingga pada 2019, takdir berkata lain. Sang ayah wafat, meninggalkan rencana yang belum sempat terwujud.
Namun, seperti benang yang tak pernah putus, harapan itu menemukan jalannya kembali. Melalui kebijakan pelimpahan porsi, nama Athaya akhirnya masuk dalam daftar calon jamaah haji tahun 2026.
Ia menggantikan posisi ayahnya—bukan hanya secara administratif, tapi juga secara batin. Dimana kebijakan Kemenhaj tahun 2026 ini usia berhaji bisa usia 13 tahun. Sebelumnya tahun 2025 usia jamaah haji adalah 18 Tahun.
Ibunya, Anita Fitriani Yusuf, masih menyimpan rasa haru setiap kali menceritakan proses itu.
“Saat ini Athaya anak saya berusia 17 tahun dan ini seperti jawaban dari doa yang panjang. Anak saya bisa melanjutkan apa yang dulu diinginkan ayahnya dan menjadi Haji Termuda Grobogan,” tuturnya pelan.
Kini, hari keberangkatan semakin dekat. Pada 1 Mei 2026, Athaya akan berangkat bersama ibunya dan empat anggota keluarga lain dalam kloter 32 menuju Embarkasi Solo. Sebuah titik awal dari perjalanan panjang yang selama ini hanya ia bayangkan lewat cerita dan buku.
Tiga bulan terakhir menjadi fase persiapan yang intens. Setiap pekan, ia mengikuti manasik di KBIHU Pelita.
Dari cara mengenakan ihram, memahami rute ibadah, hingga melafalkan doa-doa, semuanya ia pelajari dengan sungguh-sungguh.
”Jelang pemberangkatan ini adalah niat kami berhaji adalah beribadah dan meningkatkan keimanan kami kepada Allah. Serta persiapan fisik dan mental,” terang dia.
Sesekali, rasa gugup datang. Wajar, ini akan menjadi perjalanan pertamanya ke luar negeri. Lebih dari itu, ia akan menjalani ibadah yang penuh makna, yang tidak hanya mengandalkan fisik, tapi juga kesiapan hati.
“Saya sempat merasa takut, apakah bisa menjalankan semuanya dengan benar. Tapi saya terus belajar,” ujarnya.
Di sekolah, kisah Athaya menjadi perbincangan hangat. Teman-temannya memberi semangat, guru-guru memberikan izin dan dukungan. Tidak semua siswa mendapat kesempatan seperti ini—pergi haji di usia yang masih belia.
Namun Athaya menjalaninya tanpa berlebihan. Ia tetap seperti remaja pada umumnya. Hanya saja, di sela aktivitasnya, ada ruang khusus yang ia isi dengan doa dan persiapan batin.
Perjalanan ini, baginya, bukan sekadar perjalanan ibadah. Ini adalah bentuk bakti. Cara sunyi untuk meneruskan langkah yang pernah dirintis ayahnya.
Saat nanti ia melangkah di tanah suci, mengenakan ihram, dan melafalkan talbiyah, mungkin ada kenangan yang ikut berjalan bersamanya. Tentang sosok ayah yang dulu mendaftar haji dengan harapan sederhana: bisa berangkat bersama keluarga.
Kini, harapan itu menemukan wujudnya—meski dengan cara yang berbeda.
Athaya tidak banyak meminta. Harapannya sederhana, seperti doa-doa yang ia hafalkan setiap hari.
“Semoga diberi kelancaran, keselamatan, dan bisa menjadi haji yang mabrur,” katanya.
Di usia yang masih muda, ia telah memulai perjalanan besar. Bukan hanya menempuh jarak ribuan kilometer, tetapi juga menapaki jejak yang diwariskan dari sebuah niat, sebuah doa, dan sebuah cinta dalam keluarga.
”Saat ini saya masih sekolah dan sudah mendapatkan izin dari sekolah dan kesiapan saya sudah mengikuti manasik ibadah haji satu pekan sekali setiap hari Minggu,” tandasnya. (mun)
Editor : Admin