Sejumlah mahasiswa Universitas An Nuur menggelar Festival Lingkungan dengan menyasar anak-anak sekolah dasar sebagai langkah awal membangun kesadaran menjaga kebersihan lingkungan.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa SD Negeri 1 dan 2 Cingkrong diajak belajar langsung cara memilah sampah organik dan anorganik.
Mereka juga dikenalkan cara sederhana mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos yang bermanfaat untuk menyuburkan tanah.
Tak hanya itu, anak-anak mendapatkan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk praktik mencuci tangan yang benar.
Suasana belajar dibuat lebih menarik melalui sesi dongeng bertema lingkungan berjudul “Kali Serang yang Menangis.”
Koordinator program Mahasiswq Universitas An-Nuur (UNAN), Indah Larasati, menjelaskan kegiatan ini berangkat dari kondisi Desa Cingkrong yang kerap dilanda banjir.
Salah satu penyebabnya adalah sampah yang masih sering dibuang sembarangan hingga menumpuk di sungai, selokan, dan lingkungan rumah warga.
“Desa Cingkrong sering banjir. Sampah masih banyak berserakan di sungai, selokan, sampai lingkungan rumah warga. Kami ingin menumbuhkan kesadaran sejak dini bahwa sampah bisa menjadi masalah serius bagi kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, anak-anak perlu memahami bahwa sampah bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi juga berkaitan langsung dengan kesehatan dan keselamatan lingkungan.
Sampah yang menumpuk di aliran air dapat memperparah genangan sekaligus memicu berbagai penyakit.
Namun di sisi lain, sampah juga dapat bernilai manfaat jika dikelola dengan tepat.
“Kalau sampah diolah menjadi pupuk kompos, justru bisa bermanfaat untuk menyuburkan tanah,” tambahnya.
Selain praktik langsung, para siswa juga diajak mendengarkan dongeng “Kali Serang yang Menangis” yang mengangkat kisah sungai yang tercemar akibat sampah.
Cerita tersebut disampaikan dengan gaya ringan agar mudah dipahami anak-anak, sekaligus menanamkan pesan pentingnya menjaga sungai dan lingkungan sekitar.
Sementara itu, Kepala Sekolah SDN 1 dan 2 Cingkrong, Ike Yuli Hartatik, menyampaikan apresiasi atas kegiatan tersebut.
Ia menilai festival ini memberi pengalaman belajar baru bagi siswa yang selama ini jarang mereka dapatkan di dalam pembelajaran kelas.
“Kami sangat berterima kasih. Anak-anak mendapat pengalaman belajar yang belum pernah mereka peroleh di dalam kelas, seperti mendongeng, memilah sampah, serta menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan,” ungkapnya.
Melalui Festival Lingkungan ini, mereka berharap kebiasaan memilah sampah, membuang sampah pada tempatnya, serta menerapkan PHBS dapat tertanam sejak usia dini.
Dengan begitu, anak-anak diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi lingkungan Desa Cingkrong ke depan. (int)
Editor : Admin