GROBOGAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Grobogan memasang target ambisius dengan membidik masuk dalam daftar penerima program Local Service Delivery Improvement Project (LSDP). Nilai proyek yang diusulkan tak main-main, mencapai Rp 135 miliar.
Saat ini, Grobogan telah lolos sebagai salah satu dari 39 daerah kandidat dan tengah menanti hasil seleksi administrasi. Pemkab tak sekadar berharap. Berbagai tahapan lanjutan sudah disiapkan matang, mulai dari pelengkapan dokumen, verifikasi administrasi, hingga agenda peninjauan lapangan yang dijadwalkan berlangsung Mei mendatang.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Grobogan Heru Dwi Cahyono mengatakan, fokus utama usulan Grobogan mengarah pada pembenahan pengelolaan sampah secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir. Skema yang disiapkan tak hanya menyentuh aspek teknis, tetapi juga sosial. Penguatan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R), pembentukan kelompok swadaya masyarakat, hingga peningkatan kesadaran publik menjadi bagian integral program yang dirancang berjalan selama lima tahun.
Pemkab mengalokasikan anggaran sekitar Rp 314 juta per tahun. Dana itu difokuskan pada kegiatan sosialisasi berkelanjutan agar perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah bisa tercapai,” kata Heru Dwi Cahyono.
Selain itu, disisi lain, kebutuhan sarana dan prasarana juga mendapat porsi besar. Nilainya mencapai Rp 35 miliar, meliputi pengadaan 50 unit becak sampah, 15 kendaraan pengangkut jenis L300 untuk menjangkau wilayah yang lebih luas, serta 15 unit arm roll berikut 50 kontainer sampah yang akan ditempatkan di titik strategis.
Tak berhenti di situ, Pemkab juga mengusulkan tambahan 15 unit dump truk serta alat berat berupa ekskavator guna menangani sampah residu. Secara keseluruhan, kebutuhan fisik yang diajukan menembus angka Rp 95 miliar.
Penguatan infrastruktur turut menjadi perhatian serius. Rencana pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) akan difokuskan di wilayah Ngembak, Godong, Wirosari, dan Gabus. Selain itu, Pemkab menargetkan penambahan 13 unit TPS3R baru dengan nilai masing-masing Rp 600 juta. Saat ini, Grobogan telah memiliki 18 unit TPS3R yang tersebar di sejumlah wilayah.
“Jika disetujui, kita akan tambah 13 TPS3R lagi untuk memperkuat pengelolaan di tingkat desa,” ujarnya.
Dalam skema besar tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek utama. Peran bank sampah diperkuat melalui sistem terintegrasi yang melibatkan Bank Sampah Unit (BSU), pengepul, hingga proses pemilahan yang mampu memberikan nilai ekonomi bagi warga.
Saat ini, total petugas kebersihan yang menangani taman dan persampahan di Grobogan tercatat sebanyak 302 orang. Namun, jumlah tersebut dinilai belum tentu ideal. Pemkab berencana melakukan analisis beban kerja untuk memastikan kebutuhan riil tenaga di lapangan.
Jika penambahan personel tidak memungkinkan, opsi mekanisasi menjadi solusi yang disiapkan. Dengan dukungan peralatan modern, pelayanan diharapkan tetap optimal dan lebih efisien.
“Kalau penambahan tenaga tidak bisa, maka mekanisasi jadi langkah strategis agar layanan tetap maksimal,” pungkasnya (mun)
Editor : Admin