Imbas Konflik Global, Perajin Tahu Tempe di Grobogan Tertekan Kenaikan Bahan Baku

Sirojul Munir • Dipublikasikan Selasa, 7 April 2026 | 15:17 WIB
TERKENA DAMPAK – Pengrajin tempe di Kota Purwodadi sedang membuat tempe dengan mengurangi ukuran karena dampaknya naiknya bahan baku kedelai.
TERKENA DAMPAK – Pengrajin tempe di Kota Purwodadi sedang membuat tempe dengan mengurangi ukuran karena dampaknya naiknya bahan baku kedelai.

 

GROBOGAN – Gejolak konflik internasional yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai dirasakan hingga ke tingkat pelaku usaha kecil di daerah. Di Kota Purwodadi, para perajin tahu dan tempe harus menghadapi lonjakan harga bahan baku yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Salah satunya dialami Rumiyati, perajin tahu tempe di Purwodadi, Grobogan. Ia mengaku kenaikan harga kedelai impor menjadi pukulan berat bagi usahanya. Jika sebelumnya harga kedelai masih berada di kisaran Rp 9.000 per kilogram, kini melonjak menjadi Rp 10.600 per kilogram.

“Kenaikan ini jelas terasa sekali, karena kedelai itu bahan utama kami,” ujarnya.

Tak hanya kedelai, harga bahan pendukung seperti plastik juga ikut meroket tajam. Rumiyati menyebut, harga plastik yang sebelumnya sekitar Rp 22.500 per kilogram kini hampir dua kali lipat menjadi Rp 45.000 per kilogram.

“Plastik juga naik drastis. Ini menambah beban produksi kami setiap hari,” imbuhnya.

Kondisi tersebut memaksa para perajin untuk memutar otak agar usaha tetap berjalan tanpa kehilangan pelanggan. Salah satu langkah yang diambil adalah melakukan penyesuaian harga jual, namun dengan strategi tertentu.

Rumiyati mengungkapkan, harga produk memang dinaikkan, tetapi tidak terlalu signifikan. Untuk penjualan per kilogram, harga yang sebelumnya Rp 10.000 kini menjadi Rp 11.500. Sementara untuk penjualan per biji, harga tetap dipertahankan, namun ukuran atau beratnya sedikit dikurangi.

“Kalau per biji tetap, tapi timbangannya kami kurangi. Kalau per kilo ya naik, ada selisih sekitar Rp 1.500,” jelasnya.

Meski demikian, ia berharap ada peran dari pihak terkait untuk membantu memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai kondisi yang dihadapi pelaku usaha kecil, khususnya terkait kenaikan harga bahan baku.

“Harapannya ada yang mensosialisasikan harga bahan baku seperti kedelai dan plastik. Jadi konsumen juga paham kenapa harga produk kami ikut naik,” tuturnya.

Menurutnya, keterbukaan informasi kepada konsumen menjadi penting agar tidak terjadi kesalahpahaman. Dengan begitu, masyarakat tidak serta-merta menganggap produk tahu dan tempe menjadi mahal tanpa mengetahui penyebabnya.

“Kalau konsumen sudah tahu kondisi bahan baku, setidaknya mereka tidak kaget dan bisa memaklumi,” katanya.

Rumiyati menambahkan, fenomena kenaikan harga bahan baku sebenarnya bukan hal baru. Sejak dulu, setiap terjadi lonjakan harga, para perajin selalu menghadapi berbagai kendala. Namun seiring waktu, konsumen biasanya mulai beradaptasi dengan harga baru.

“Dari dulu memang begitu, awalnya berat, tapi lama-lama konsumen juga terbiasa dan bisa menerima,” pungkasnya. (mun)

Editor : Admin
perang amerika israel dengan iran tahu dan tempe naik kurangi ukuran harga kedelai impor harga kedelai naik