GROBOGAN– Warga Kabupaten Grobogan diminta mulai waspada. Tahun ini, ancaman kekeringan panjang kembali membayangi akibat fenomena El Nino yang diprediksi mulai terasa pada April 2026.
Berdasarkan rilis terbaru dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang diterima BPBD Grobogan, curah hujan diperkirakan menurun drastis. Kondisi ini berpotensi memicu krisis air di sejumlah wilayah, terutama daerah yang selama ini minim sumber air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Grobogan, Wahyu Tri Darmawanto, mengimbau masyarakat untuk mulai bersiap menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih panjang dari biasanya. Meski begitu, ia menegaskan warga tidak perlu panik.
“Kami minta warga di daerah rawan air untuk bersiap sejak dini, tapi tetap tenang. Langkah-langkah penanganan sudah kami siapkan,” ujarnya.
Menurutnya, potensi kekeringan tahun ini bukan hal sepele. Kabupaten Grobogan memiliki riwayat panjang terdampak kekeringan saat fenomena El Nino terjadi.
Catatan sebelumnya menunjukkan, pada 2023 sebanyak 113 desa terdampak kekeringan. Sementara pada 2024, krisis air bersih masih melanda sedikitnya 84 desa di 19 kecamatan.
Berbeda dengan tahun lalu, kondisi 2025 justru relatif aman. Hujan masih sering turun sepanjang tahun karena pengaruh La Nina, sehingga Grobogan nyaris tanpa kekeringan.
“Di 2025 kita aman karena hujan terus turun. Tapi tahun ini kembali El Nino, jadi intensitas hujan menurun dan potensi kekeringan meningkat,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD memastikan distribusi air bersih siap dilakukan kapan saja jika dibutuhkan.
Koordinasi juga telah disiapkan dengan berbagai pihak, termasuk PDAM hingga sektor swasta melalui program CSR.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk mulai menghemat penggunaan air dan memanfaatkan sisa musim hujan dengan melakukan penampungan air sebagai cadangan.
“Kami terus pantau kondisi cuaca secara real-time dari BMKG dan berkomunikasi dengan desa-desa. Kalau sudah ada tanda krisis, penanganan langsung dilakukan,” pungkasnya. (int)
Editor : Intan Maylani Sabrina