GROBOGAN - Perayaan Hari Ulang Tahun ke-300 Kabupaten Grobogan tahun ini tampil berbeda.
Di halaman pendapa, tak lagi terlihat deretan karangan bunga berbahan styrofoam yang biasa menumpuk usai acara.
Sebagai gantinya, puluhan tanaman hidup berjajar rapi, menghadirkan suasana lebih asri sekaligus penuh makna.
Sekretaris Daerah Grobogan, Anang Armunanto, sebelumnya telah mengimbau seluruh pihak yang ingin menyampaikan ucapan selamat agar mengganti karangan bunga dengan tanaman hidup.
“Sebelumnya, yang ingin menyampaikan selamat, untuk menggunakan tanaman. Supaya nggak nambah sampah. Tanamannya pun akan bisa dimanfaatkan lagi,” jelasnya.
Hingga Rabu (4/3), tercatat sebanyak 68 tanaman hidup telah diterima.
Jenisnya pun beragam, mulai dari pohon peneduh, tanaman hias, hingga tanaman buah produktif.
Untuk kategori buah, terdapat mangga, jeruk, kelengkeng, sawo, alpukat, hingga durian. Sementara pohon peneduh dan hias di antaranya pule dan anting putri.
Meski jumlahnya tak sebanyak karangan bunga pada tahun-tahun sebelumnya, Anang menilai justru hal itu membuat lingkungan pendapa terlihat lebih rapi dan tertata.
“Meski terlihat sedikit, tapi malah membuat lingkungan pendapa rapi,” imbuhnya.
Rencananya, pada Jumat (6/3), puluhan tanaman tersebut akan diambil oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang kemudian ditanam bersama. Titik penanaman masih menunggu keputusan DLH.
“Titik penanamannya belum tahu di mana. Nanti tergantung DLH mau ditanam di mana,” jelasnya.
Meski tak lagi merekomendasikan penggunaan karangan bunga styrofoam, Pemkab menegaskan kebijakan ini bukan untuk mematikan usaha pelaku jasa karangan bunga.
Justru sebaliknya, diharapkan menjadi momentum bagi pelaku UMKM untuk berinovasi.
“Selama ini jadi tumpukan, berserakan, dan buang. Mungkin sampahnya juga bisa diolah di TPA, tapi rata-rata sudah rusak dan berserakan dulu,” keluhnya.
Menurutnya, pelaku usaha bisa mulai berkreasi menghadirkan produk ucapan berbasis tanaman hidup atau konsep ramah lingkungan lainnya yang lebih bernilai guna.
Lebih dari sekadar pengurangan sampah, penggunaan tanaman hidup ini disebut sebagai bagian dari semangat “noto kutho bangun ndeso”. Bukan hanya dimaknai secara harfiah menata kota dan membangun desa, tetapi juga membangun kesadaran lingkungan secara konkret. (int)
Editor : Ali Mustofa